Misi Dagang ke Tiongkok Bukukan Potensi Transaksi Rp1,55 Triliun
Indonesia mencatat potensi transaksi sebesar USD 88,48 juta atau sekitar Rp1,55 triliunSIAL Shanghai 2026 yang berlangsung pada 18–20 Mei 2026.
Ringkasan capaian
Potensi transaksi terbesar berasal dari penandatanganan 12 nota kesepahaman (MoU) senilai USD 60,34 juta. Selain itu, pameran dan kegiatan business matching juga menyumbang nilai signifikan.
Wakil Menteri Perdagangan Dyah Roro Esti Widya Putri menilai hasil ini menunjukkan peluang kerja sama dagang antara Indonesia dan Tiongkok masih terbuka lebar, khususnya di sektor makanan dan minuman.
“Tiongkok merupakan mitra dagang yang penting dan menjanjikan. Per Kamis, 21 Mei, rangkaian kegiatan SIAL dan Misi Dagang RI mencatat potensi transaksi senilai USD 88,48 juta,” ujar Dyah Roro Esti Widya Putri.
Rincian potensi transaksi
Rincian nilai potensi transaksi dibagi menjadi beberapa sumber. Penandatanganan MoU menyumbang USD 60,34 juta. Business matching menghasilkan sekitar USD 25,89 juta.
Sementara itu, transaksi langsung dari pameran SIAL tercatat sebesar USD 2,4 juta. Nilai tersebut mengindikasikan kombinasi kesepakatan jangka panjang dan penjualan langsung di lokasi pameran.
Produk unggulan yang diminati
Beragam produk Indonesia menarik perhatian importir Tiongkok. Produk yang disebutkan antara lain sarang burung walet, durian beku, salak, rumput laut, kopi, vanila, dan produk turunan kelapa.
- Produk olahan almond dan kelapa parut kering untuk industri makanan dan minuman (paling diminati di pameran).
- Kopi, lada hitam, gula aren, arang kelapa, dan nanas kaleng (banyak diminati dalam business matching).
Dampak bagi pelaku usaha
Perwakilan perusahaan peserta menyambut baik hasil misi dagang yang membuka akses pasar. PT Aditama Tunggal Perkasa, misalnya, menandatangani kontrak ekspor produk turunan kelapa dengan pembeli asal Tiongkok.
“Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa produk turunan kelapa Indonesia memiliki kualitas dan daya saing. Ini peluang pasar yang sangat besar di tingkat global,” kata Rizky Adiliah perwakilan PT Aditama Tunggal Perkasa.
Keberhasilan penandatanganan kontrak dan tingginya minat terhadap produk lokal memberi ruang bagi pelaku UKM dan eksportir untuk meningkatkan produksi dan sertifikasi mutu.
Proyeksi ke depan
Dengan hasil yang tercatat, pemerintah diharapkan melanjutkan dukungan fasilitasi pasar, standar mutu, dan logistik agar kesepakatan dapat terealisasi. Misi dagang berikutnya diperkirakan akan fokus pada penguatan rantai pasok dan diversifikasi produk ekspor.
Implikasinya adalah potensi peningkatan ekspor non-migas dan peluang bagi pelaku usaha kecil-menengah untuk menembus pasar Tiongkok yang besar.
Berita Terkait
IHSG Ditutup Menguat 1,1% ke 6.162 pada 22 Mei 2026
IHSG ditutup menguat 1,1% ke 6.162,04 pada 22 Mei 2026; nilai transaksi Rp20,01 triliun dan sentimen global...
UMKM Kunci Pertumbuhan Ekonomi 2027, Ekonom UI Paparkan RAPBN
Ekonom UI Telisa Aulia Valianti sebut UMKM kunci pertumbuhan 2027; proyeksi ekonomi 5,8–6,5% dan pendapatan...
IHSG Menguat 0,30% pada Jeda Siang, Tekanan Eksternal dan MSCI Jadi Perhatian
IHSG menguat 0,30% ke 6.113,44 pada jeda siang 22 Mei 2026, namun tekanan dari sentimen global dan rebalanci...
Rupiah Melemah ke Rp17.700, Pasar Tunggu Data BI
Rupiah melemah ke sekitar Rp17.700 per dolar karena pasar menunggu data neraca transaksi berjalan BI dan tek...
Cek Harga Emas Perhiasan Hari Ini: 24K–12K (22 Mei 2026)
Daftar harga emas perhiasan 24K–12K per Jumat, 22 Mei 2026: beberapa gerai turun, Raja Emas stabil, Laku Ema...
OJK: Transaksi Bursa Karbon Indonesia Masih Rendah
OJK menyatakan transaksi IDXCarbon hanya Rp93,75 miliar; OJK dorong revisi POJK dan pembentukan SRUK untuk p...