Ketua HISSI Aceh Minta Menteri ESDM Mundur soal Blok Andaman
LANGSA — Ketua Majelis Pimpinan Wilayah HISSI Aceh, Prof. Dr. Muzakkir Samidan, meminta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengundurkan diri. Permintaan itu dilontarkan sebagai respons terhadap polemik pengelolaan migas Blok Andaman yang memicu perselisihan antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat.
Pernyataan tersebut disampaikan Muzakkir dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat (26/6). Ia menilai tindakan mundur merupakan bentuk tanggung jawab moral dan politik atas konflik yang terjadi.
Tuntutan pengunduran diri dan alasannya
Muzakkir menilai kebijakan Menteri ESDM pada kasus Blok Andaman menunjukkan lemahnya kapasitas dan kapabilitas pengelolaan sektor energi nasional. Menurutnya, sikap itu menimbulkan keresahan publik dan merusak tata kelola migas.
Ia menegaskan bahwa seorang menteri wajib memahami dan menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan, bukan semata berorientasi pada kebijakan politik.
“Persoalan pengelolaan migas Blok Andaman telah menimbulkan polemik dengan Pemerintah Aceh. Sebagai bentuk tanggung jawab moral dan politik, Menteri ESDM sebaiknya mengundurkan diri dari jabatannya,”
Kritik terhadap kabinet dan rekomendasi
Selain meminta pengunduran diri, Muzakkir mendorong Presiden untuk mengevaluasi kinerja menteri-menteri dalam Kabinet. Ia menilai diperlukan perombakan terhadap pejabat yang dianggap tidak mampu menjalankan amanah secara optimal.
Menurut Muzakkir, evaluasi itu penting agar komitmen pemerintahan yang baik, bersih, dan berwibawa bisa terwujud dalam praktik kebijakan publik.
Dorongan dialog dan penghormatan kewenangan daerah
Di samping tuntutan sanksi politik, Muzakkir mengharapkan pemerintah pusat mengedepankan dialog dengan Pemerintah Aceh. Ia menekankan pentingnya menghormati kewenangan daerah dalam merancang kebijakan strategis yang menyangkut pengelolaan sumber daya alam.
Langkah dialog, kata Muzakkir, menjadi jalan untuk meredam konflik dan mencapai solusi tata kelola migas yang adil antara pusat dan daerah.
Implikasi dan langkah ke depan
Permintaan pengunduran diri Menteri ESDM ini menambah tekanan publik terhadap penanganan Blok Andaman. Jika tidak direspons melalui dialog dan evaluasi, potensi eskalasi politik di tingkat daerah dapat semakin meningkat.
Pemerintah pusat diminta menimbang rekomendasi evaluasi kabinet serta membuka mekanisme deliberasi yang melibatkan pemangku kepentingan di Aceh agar masalah pengelolaan migas dapat diselesaikan secara tuntas dan transparan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
ASPERA Mini Studio: Transformasi Digital Pembelajaran Speaking SAS
ASPERA Mini Studio hadir sebagai sistem pembelajaran speaking digital di SAS, memadukan studio, multimedia,...
Subulussalam Beringin Menuju Desa Definitif, BIG Lakukan Verifikasi Batas
Desa Persiapan Subulussalam Beringin menjalani verifikasi batas wilayah oleh BIG setelah peroleh kode regist...
Ketua DPRK Banda Aceh Soroti Lonjakan Perceraian dan Kekerasan Anak
Ketua DPRK Banda Aceh kunjungi Mahkamah Syar'iyah, soroti lebih dari 300 perkara perceraian Jan–Sep 2026 dan...
DP3APM Copot 5 Kepling, 2 Lainnya Tunggu Keputusan Ombudsman
DP3APM Tebingtinggi mencopot 5 kepling pada 1 Oktober; dua lainnya menunggu keputusan Ombudsman setelah meng...
Eksekutor Pembakar Mobil Sukur Rambe Ditahan, Polisi Diminta Ungkap Dalang
Tersangka DH ditahan usai mengaku membakar mobil Sukur Rambe atas perintah RPJ; polisi didesak menuntaskan p...
LSM Tuding Gudang di Medan Labuhan Menimbun Solar Subsidi Ilegal
LSM Social Justice laporkan dugaan penimbunan solar subsidi di gudang Medan Labuhan; minta polisi segera ber...