Forensik: Kematian Winda Gowasa Bukan Akibat Penganiayaan
MEDAN — Dokter forensik Rumah Sakit Bhayangkara, Mistar Ritonga, menyatakan kematian Winda Lorenza Gowasa pada Kamis (6/8) bukan akibat penganiayaan karena tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Pernyataan itu disampaikan setelah tim medis melakukan otopsi lengkap di rumah sakit.
Hasil otopsi dan temuan utama
Mistar menjelaskan, ada beberapa lebam di tubuh korban, namun bukan bekas cekikan atau tanda kekerasan. Ia menegaskan bahwa luka tembak yang ditemukan menelusuri dasar tengkorak dan menjadi temuan penting dalam pemeriksaan forensik.
“Lebam yang ada di bagian leher bukanlah bekas cekikan, melainkan perubahan yang timbul secara fisiologis. Hal serupa juga terjadi di bagian mata,”
Menurutnya, gambaran tersebut konsisten dengan mekanisme internal, bukan akibat benturan atau tekanan dari luar.
Penjelasan tentang lebam pada mata dan leher
Dokter Mistar menerangkan ada struktur pembuluh darah di dasar tengkorak yang berperan pada munculnya lebam di kelopak mata. Ia merujuk pada pembuluh yang memberi suplai darah ke area tersebut, sehingga bila pecah akan terbentuk hematom.
“Di sana, ada pembuluh darah yang disebut dengan sirkulus willisi, yang mempunyai tiga percabangan, salah satunya mendarahi ke kelopak mata. Jadi, kalau dia pecah terjadi hematom namanya. Itu istilahnya lebih khas dia hematom kacamata,”
Penjelasan itu menjelaskan mengapa warna lebam serupa pada beberapa bagian tubuh meski penyebabnya bukan penganiayaan.
Proses otopsi dan jahitan pasca pemeriksaan
Mistar juga menjelaskan prosedur otopsi yang dilakukan, yang melibatkan pembukaan komprehensif mulai dari leher hingga perut untuk pemeriksaan organ internal. Setelah semua organ dikeluarkan dan diperiksa, tim medis melakukan penjahitan kembali pada area yang dibuka.
“Bukan hanya leher, kepala juga. Jadi, kami buka dari insisi sampai simfisis, atau perut bawahnya. Sesudah itu, kami keluarkan organ, diperiksa semua, baru kami jahit kembali,”
Lebam mayat dan penjelasan tambahan
Selain itu, ada lebam pada punggung kaki dan beberapa jemari tangan yang dikategorikan sebagai lebam mayat. Mistar menerangkan lebam jenis ini terjadi karena penumpukan cairan darah saat posisi tubuh, bukan karena kekerasan eksternal.
“Lebam mayat itu ialah penumpukan cairan darah di posisi tubuh. Jadi, itu fisiologis, berbeda nanti dia lebamnya itu oleh karena kekerasan. Memang warnanya sama karena yang terlihat itu sama-sama warna darah atau hemoglobinnya,”
Pernyataan tim forensik memperkuat kesimpulan bahwa tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan pada tubuh Winda Lorenza Gowasa setelah pemeriksaan medis lengkap. Temuan ini menjadi dasar penilaian medis terhadap penyebab kematian korban.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
DWP Kalsel Kunjungi Aceh untuk Pererat Silaturahmi
Ketua DWP Aceh terima kunjungan Ketua DWP Kalimantan Selatan di Banda Aceh, Jumat (7/8), untuk pererat silat...
Polsek Siantar Marihat Selesaikan Pertikaian Abang-Adik Lewat Call Center 110
Polsek Siantar Marihat cepat tanggap setelah laporan via Call Center 110; personel menyelesaikan perselisiha...
Kekosongan Sekdaprovsu Picu Risiko Kinerja TAPD Sumut
Kekosongan jabatan Sekdaprovsu berisiko mengganggu kinerja TAPD Sumut karena ketua TAPD melekat pada posisi...
Aceh Utara Pelajari Program Beut Kitab Bak Sikula di Aceh Besar
Plt Kadisdik Dayah Aceh Utara kunjungi Aceh Besar (6/8) untuk mempelajari implementasi Program Beut Kitab Ba...
Aceh Besar Siaga Antisipasi Angin Kencang, 16 Kejadian Tercatat
Pemkab Aceh Besar tingkatkan kesiapsiagaan menyusul 16 kejadian angin kencang sejak 4 Agustus; BPBD dan inst...
DPRD Sumut Desak Pengawasan Ketat Kasus Kematian WLG di Medan
DPRD Sumut mendesak pengawalan lintas lembaga atas penyelidikan kematian WLG di Medan agar penyidikan transp...