SMAN 1 Sambas Tolak Final Ulang LCC Empat Pilar Kalbar
SMAN 1 Sambas menolak final ulang LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang diumumkan pimpinan MPR pada 16 Mei 2026. Sekolah menyatakan peserta telah berlomba sesuai tata tertib dan menolak tudingan kecurangan yang beredar.
Penolakan resmi sekolah
Pernyataan resmi sekolah diunggah melalui Instagram pada Sabtu, 16 Mei 2026. Pihak sekolah menegaskan hasil final yang menetapkan SMAN 1 Sambas sebagai juara sah menurut aturan lomba yang berlaku.
SMAN1 Sambas menolak pertandingan final ulang tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Peserta LCC dari SMAN 1 Sambas, telah berkompetisi sesuai dengan tata tertib yang telah ditetapkan panitia dan disepakati seluruh peserta lomba.
Kontroversi nilai dan tuduhan
Kontroversi muncul setelah muncul klaim bahwa dewan juri tidak adil. Menurut laporan, nilai kelompok C (SMAN 1 Pontianak) dikurangi, sementara kelompok SMAN 1 Sambas tetap mendapat poin meski menjawab sama dengan peserta sebelumnya. Perbedaan perlakuan itu memicu tuduhan kecurangan, penyuapan, nepotisme, dan pengaturan kemenangan.
Sekolah membantah keras semua tuduhan tersebut. Mereka juga mengecam penyebaran narasi negatif yang menyerang nama baik sekolah, guru, staf, siswa, dan alumni.
Tindakan ini telah mencemarkan nama baik SMAN 1 Sambas. Ini menimbulkan tekanan psikologi kepada pihak terdampak.
Keputusan MPR: final akan diulang
Menanggapi polemik, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyatakan pimpinan memutuskan untuk mengulang final LCC tingkat Kalbar dan akan menunjuk juri independen untuk penyelenggaraan ulang.
Pimpinan mengambil keputusan lomba cerdas cermat Kalimantan Barat, yang final, kita ulang pada waktu yang diputuskan secepatnya. Juri adalah juri independen.
Tuntutan SMAN 1 Sambas
Sekolah meminta penyelenggara mengambil langkah untuk memulihkan nama baik dan memberikan jaminan keamanan psikologis bagi siswa sebelum mereka mewakili Kalimantan Barat pada tingkat nasional.
- Memulihkan nama baik SMAN 1 Sambas
- Memberikan jaminan keamanan dan dukungan psikologis bagi peserta
- Memastikan proses penilaian yang objektif jika lomba diulang
Menghormati setiap keputusan resmi yang telah ditetapkan sebagai bagian dari mekanisme penyelenggaraan lomba. Kami berharap semua pihak dapat menahan diri menghormati proses yang sedang berlangsung dan mengedepankan penyelesaian yang bijaksana, objektif serta berkeadilan.
Implikasi dan langkah ke depan
Penyelenggaraan ulang final menjadi momentum untuk memperjelas standar penilaian dan menenangkan situasi. Jika proses pengulangan berjalan transparan dengan juri independen, hal itu dapat meredam ketegangan dan melindungi kredibilitas lomba.
Di sisi lain, tekanan media sosial dan tuduhan yang belum terbukti tetap berpotensi menimbulkan dampak psikologis bagi siswa dan staf. Penyelenggara serta pihak sekolah perlu berkoordinasi cepat untuk memastikan hak-hak peserta terlindungi dan reputasi lembaga direhabilitasi jika diperlukan.
Berita Terkait
PU Kejar Penyelesaian 93 Sekolah Rakyat Sebelum Tahun Ajaran 2026
Kementerian PU menargetkan penyelesaian 93 Sekolah Rakyat Tahap II sebelum tahun ajaran 2026/2027 dengan pen...
Aher Mendesak Perlindungan Jurnalis Indonesia di Palestina
Ahmad Heryawan mendesak pemerintah lindungi jurnalis Indonesia di kontingen Global Sumud Flotilla yang ditah...
PFI Desak Bebaskan 9 WNI Ditahan dalam Misi ke Gaza
PFI mendesak pembebasan sembilan WNI yang ditahan saat misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaz...
Korlantas Tegaskan 8 Panduan Etika Pengawalan Lalu Lintas
Korlantas terbitkan panduan etika pengawalan; sertifikasi 2026 menekankan profesionalisme, kepatuhan UU 22/2...
MN KAHMI: Program Tambang Rakyat Harus Perhatikan Lingkungan
MN KAHMI minta program tambang rakyat perhatikan lingkungan dan keseimbangan ekonomi pada Dialog Nasional di...
MCB Luncurkan 'Rebahan di STOVIA' Ajak Milenial Rasakan Sejarah
Museum Kebangkitan Nasional luncurkan 'Rebahan di STOVIA' pada 20 Mei 2026, menawarkan pengalaman imersif as...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!