Gaya Hidup

Indonesia Target Rp63,5 T Investasi Pariwisata di 13 Destinasi 2026

Bagikan:
Pemandangan destinasi wisata Indonesia dengan pembangunan infrastruktur pariwisata

Jakarta. Pemerintah menargetkan Rp63,5 triliun investasi pariwisata pada 2026 untuk 13 destinasi prioritas, namun aliran modal masih terkonsentrasi di Bali, Jakarta, dan Kepulauan Riau, ujar Rizki Handayani di Jakarta, Rabu. Kondisi ini mendorong upaya percepatan distribusi investasi ke daerah lain agar potensi pariwisata terkelola merata.

Target investasi dan tantangan distribusi

Menurut data kementerian, sekitar 70% investasi pariwisata yang tercatat pada 2025 terpusat di tiga provinsi tersebut. Ketimpangan ini membuat beberapa destinasi prioritas sulit menarik investor meski memiliki potensi berkembang.

Rizki menekankan perlunya kesiapan proyek di daerah agar lebih matang dan menarik secara komersial.

"Kami mendorong kolaborasi lebih kuat untuk memperluas investasi ke destinasi lain dan wilayah dengan potensi besar," ujar Rizki.

Langkah memperkuat kesiapan daerah

Pemerintah meminta pemerintah daerah memperbaiki kesiapan proyek investasi dengan fokus pada infrastruktur pendukung, konektivitas transportasi, dan diversifikasi produk wisata. Regulasi yang sederhana dan kepastian hukum juga dinilai krusial untuk meningkatkan kepercayaan investor.

Rizki menyampaikan rencana pertemuan yang menghubungkan langsung daerah dengan calon investor untuk mempercepat penjajakan kerja sama investasi.

Tren permintaan wisata global

Rizki menguraikan enam tren utama yang membentuk permintaan wisata global saat ini. Tren ini perlu diintegrasikan ke pengembangan produk wisata daerah agar relevan dengan pasar internasional.

  • Wisata alam dan petualangan
  • Wisata ramah lingkungan (eco-friendly)
  • Wisata kuliner dan gastronomi
  • Immersi budaya
  • Wisata kebugaran (wellness)
  • Bleisure — kombinasi bisnis dan rekreasi

Strategi pemasaran dan pasar prioritas

Ni Made Ayu Marthini, deputi pemasaran, menyatakan kondisi global masih memengaruhi arus perjalanan internasional, terutama dari Eropa, Timur Tengah, dan AS. Kenaikan harga minyak dan tarif udara turut berdampak pada biaya perjalanan.

"Dari sisi pemasaran, kita harus tetap optimis. Di setiap krisis selalu ada peluang — bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga mencipta pertumbuhan," kata Made.

Data Amadeus menunjukkan pemesanan tiket pesawat global naik 4% pada periode Maret–Juni 2026, menandakan permintaan internasional tetap tangguh meski pergeseran tujuan ke alternatif non-Eropa meningkat. Perjalanan jarak pendek dan intra-Asia juga semakin populer.

Made mengatakan pemerintah memfokuskan pasar pada koridor yang dianggap lebih aman seperti ASEAN, Asia Timur (Jepang, Korsel, Cina), serta Oseania (Australia dan Selandia Baru), namun tetap mempertahankan upaya tarik pengunjung dari Eropa, Timur Tengah, dan AS karena nilai belanja per kunjungan yang tinggi.

Inovasi digital dan kerja sama sektor

Untuk memperkuat promosi digital, kementerian memperbarui portal resmi pariwisata dan meluncurkan platform berbasis kecerdasan buatan bernama MaiA. Platform ini membantu wisatawan menemukan destinasi, merancang rencana perjalanan, dan mengakses informasi dengan lebih mudah.

Made mengajak pemerintah daerah, asosiasi, dan pelaku industri untuk berkolaborasi memaksimalkan promosi digital dan menyinergikan produk wisata sesuai tren pasar.

Dengan target investasi yang ambisius dan strategi pemasaran yang disesuaikan, pemerintah berharap aliran modal pariwisata dapat terdistribusi lebih merata sehingga seluruh destinasi prioritas dapat berkembang berkelanjutan.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait

Komentar (0)

Komentar akan ditinjau sebelum ditampilkan.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!