IHSG Anjlok 174 Poin di Jeda Siang, Sentimen Domestik Tekan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada jeda siang perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, turun 174,14 poin ke level 6.144,36. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen domestik terkait pidato presiden, kebijakan ekspor, dan keputusan moneter Bank Indonesia.
Pergerakan pasar hingga jeda siang
Pada pembukaan, IHSG sempat berada di level 6.366,48. Sepanjang sesi pertama indeks bergerak fluktuatif dengan titik tertinggi 6.378,81 dan terendah 6.134,99.
Penurunan pada jeda siang mencerminkan tekanan jual yang meningkat saat pelaku pasar mencerna rangka kebijakan fiskal dan moneter yang diumumkan hari ini.
Sentimen domestik: pidato Presiden dan RAPBN 2027
Tim analis Phintraco Sekuritas mencatat pasar masih menimbang sejumlah kebijakan domestik yang dipaparkan Presiden di DPR RI. Dalam pidatonya terkait kerangka ekonomi makro dan RAPBN 2027, pemerintah menargetkan defisit anggaran antara 1,8% hingga 2,4% dari PDB.
Pemerintah juga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di kisaran 5,8%-6,5% dengan inflasi 1,5%-3,5%. Target nilai tukar rupiah ditetapkan pada kisaran Rp16.800–Rp17.500 per dolar AS.
Kebijakan ekspor dan reaksi investor
Poin yang mendapat perhatian pasar adalah rencana pemerintah mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam melalui BUMN yang ditunjuk. Phintraco mencatat kebijakan ini menimbulkan sikap wait and see dari investor.
Presiden juga mengumumkan Pemerintah akan mewajibkan ekspor komoditas sumber daya alam. Dan ini dilakukan melalui BUMN yang ditunjuk Pemerintah
Kebijakan ini akan diterapkan pada komoditas seperti:
- Minyak kelapa sawit (CPO)
- Batu bara
- Paduan besi
Keputusan Bank Indonesia dan dampaknya
Pasar juga merespons keputusan Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Kenaikan ini merupakan langkah pertama sejak April 2024 dan berada di atas ekspektasi beberapa pelaku pasar.
Phintraco menilai kenaikan suku bunga dilakukan untuk menjaga stabilitas rupiah dan menekan inflasi. Namun, dampaknya diperkirakan berisiko menekan sektor properti dan emiten dengan rasio utang tinggi.
Prospek dan pengaruh jangka pendek
Sejumlah sentimen hari ini mendorong volatilitas dan kehati-hatian pelaku pasar. Investor kemungkinan akan terus memantau implementasi kebijakan ekspor BUMN dan indikasi langkah moneter selanjutnya dari BI.
Perkembangan selama sesi berikutnya dan pernyataan resmi dari regulator atau kementerian terkait akan menjadi penentu sentimen pasar dalam beberapa hari ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
OJK Apresiasi Dukungan Bank Jakarta untuk Ekonomi Kreatif DKI
OJK mengapresiasi peran Bank Jakarta dalam mendukung Program Pengembangan Ekonomi Daerah untuk memperkuat ek...
IASC Amankan Rp674 Miliar, Rp200 Miliar Dikembalikan ke Korban
IASC mengamankan Rp674 miliar dana kejahatan digital; Rp200 miliar telah dikembalikan. OJK catat 600.000 lap...
Tambang Diminta Jaga Pasokan dan Fiskal Menjelang 2026
Menjelang semester II-2026, pemerintah dan perusahaan tambang diminta menjaga pasokan domestik, menata produ...
OJK Perkuat Kolaborasi Cegah Penipuan Digital Lintas Negara
OJK menggandeng UNODC perkuat pertahanan terhadap penipuan digital lintas negara demi menjaga kepercayaan pu...
PINTU Gelar 'Trade for Glory 2026' Hadiah Rp150 Juta Token SPYX
PINTU meluncurkan kompetisi trading "Trade for Glory 2026" berhadiah Rp150 juta dalam token SPYX untuk menye...
IHSG Melemah 0,18% ke 5.864,97 pada Jeda Perdagangan
IHSG melemah 0,18% ke 5.864,97 pada jeda perdagangan 6 Juli 2026; volume 10,722 miliar saham dan nilai trans...