MCB Luncurkan 'Rebahan di STOVIA' Ajak Milenial Rasakan Sejarah
Museum Kebangkitan Nasional membuka program Rebahan di STOVIA pada Rabu, 20 Mei 2026 di Jakarta Pusat. Program ini menawarkan pengalaman imersif yang mengajak pengunjung merasakan suasana asrama siswa STOVIA pada masa kolonial. Kepala Museum dan Cagar Budaya (MCB), Indira Estiyanti Nurjadin, menyatakan kegiatan ini akan dijalankan secara rutin untuk menjangkau lebih banyak pengunjung, khususnya generasi muda.
Program imersif dan tujuannya
Program Rebahan di STOVIA dirancang sebagai pengalaman santai yang tetap edukatif. Pengunjung diajak untuk berpikir dan merasakan seperti siswa STOVIA yang tinggal di asrama, memberi sudut pandang personal terhadap perjalanan para pendiri bangsa saat muda.
"Kita akan menjadikan kegiatan rutin. Mungkin sebulan sekali ya, saya masih belum tahu detailnya, tapi ini sudah diwacanakan sejak tahun lalu,"
Menurut Indira, mayoritas siswa STOVIA setara usia SMA namun sudah memiliki kesadaran kebangsaan. Pendekatan yang lebih dekat dan bersifat reflektif diharapkan membuat sejarah terasa relevan bagi pengunjung muda.
Konsep dan pelaksanaan
Konsep yang dipakai menekankan pengalaman atmosferik dibandingkan ketergantungan pada teknologi tinggi. Rekonstruksi ruang asrama dibuat agar pengunjung dapat merasakan detail sehari-hari masa lalu, mulai dari posisi tempat tidur hingga nuansa ruang belajar dan santai.
"Imersif itu tidak harus teknologi, di sini kita justru kembali ke suasana masa lalu, bagaimana kehidupan di asrama itu,"
Dengan cara ini, museum berupaya menjadikan koleksi bukan sekadar barang pamer, melainkan pemicu dialog dan refleksi. Penyelenggara menguji format acara melalui aktivasi publik sebagai percobaan untuk kemudian dijadwalkan lebih reguler.
Respontensi pejabat dan harapan
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, memberikan dukungan terhadap inisiatif tersebut. Ia menilai program seperti ini membuat museum lebih hidup, terbuka, dan mudah diakses oleh berbagai kalangan, terutama anak muda.
"Kita ingin museum dan cagar budaya menjadi ruang hidup yang terbuka, dan inklusif. Serta juga relevan bagi masyarakat, khususnya anak-anak muda,"
Fadli Zon menambahkan bahwa aktivasi publik dimaksudkan memperkuat keterikatan generasi muda pada ruang bersejarah. Museum diharapkan menjadi tempat interaksi, pembelajaran, dan refleksi, bukan hanya tempat menyimpan koleksi.
Penutup
Dengan peluncuran Rebahan di STOVIA, Museum Kebangkitan Nasional menempatkan pengalaman pengunjung di pusat misi edukasinya. Jika rencana menjadikannya acara rutin terlaksana, program ini berpotensi memperluas audiens museum dan menumbuhkan minat sejarah di kalangan muda melalui pendekatan yang lebih humanis.
Berita Terkait
Polda Metro Jaya Tangkap 16 Pelaku Begal, Motif: Ekonomi & Narkoba
Polda Metro Jaya menangkap 16 pelaku begal (18–20 Mei 2026); motif utama ekonomi dan pembelian narkoba, bebe...
Alasan Ratusan Meriam Dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional
Kepala Museum jelaskan ratusan meriam Joseph L. Spartz dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional untuk menon...
PLN Resmikan SPKLU Tanjung Priok, Capai SPKLU ke-5.000
PLN meresmikan SPKLU Center di Tanjung Priok pada 21 Mei 2026, menandai SPKLU ke-5.000 dan memperkuat infras...
Harkitnas 2026: F-PKS Ajak Perkuat Kedaulatan dan Persatuan
F-PKS minta Harkitnas 2026 jadi momentum memperkuat persatuan dan kedaulatan, sambil mendorong kemandirian d...
Magang Nasional Batch 4 2026: Syarat, Target 150.000, dan Gaji
Kemnaker menargetkan 150.000 peserta Magang Nasional Batch 4 2026; simak syarat pendaftaran dan daftar uang...
Cek Status KTP: Cara Mengetahui NIK Dipakai untuk Pinjol
Pelajari cara cek apakah NIK KTP Anda dipakai untuk pengajuan pinjol lewat SLIK OJK dan aplikasi pinjol lega...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!