Alasan Ratusan Meriam Dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional
Kepala Museum dan Cagar Budaya, Esti Nurjadin, menjelaskan mengapa meriam Joseph L. Spartz dipamerkan di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta Pusat, Rabu, 20 Mei 2026. Ia mengatakan koleksi dipajang untuk menonjolkan sudut pandang teknologi pertahanan, bukan sekadar sebagai alat tempur.
Alasan pemilihan lokasi pameran
Menurut Esti, penempatan meriam di Museum Kebangkitan Nasional bertujuan memberi konteks teknologi dan rekayasa pada masa pembuatannya. Pendekatan ini dipilih supaya pengunjung memahami proses pembuatan serta perkembangan teknik pembuatan meriam.
"Kalau kita mengambil angle ini bukan dari meriam sebagai alat tempur. Tetapi dari sisi teknologinya,"
Nilai teknologi dan estetika
Esti menjelaskan beberapa aspek teknis dan estetika yang ingin ditonjolkan. Pada masa lalu, meriam dibuat dengan beragam teknik dan bahan. Hal ini menunjukkan kemampuan engineering yang tinggi pada zamannya.
- Material: dari perunggu hingga logam lain yang menunjukkan variasi teknik pembuatan.
- Hiasan: ukiran dan ornamentasi besi yang merefleksikan nilai estetika.
- Ukuran dan bentuk: menunjukkan kemampuan manufaktur serta fungsi yang berbeda-beda.
Menurut Esti, kombinasi unsur teknis dan hiasan inilah yang menjadi daya tarik koleksi tersebut bagi publik dan peneliti.
Hibah arsip dan sketsa
Selain benda fisik, museum menerima hibah arsip dari Joseph L. Spartz. Berkas-berkas itu meliputi sketsa meriam yang dipandang penting untuk memberikan konteks sejarah dan teknologi pada koleksi.
"Dari hibah itu ada arsip-arsip, termasuk sketsa meriam yang menurut saya penting karena memberikan konteks. Jadi ada keberhasilan engineering pada masa itu," ujarnya.
Profil singkat Joseph L. Spartz
Pengawas Museum dan Cagar Budaya Tamalia Alisjahbana menambahkan latar belakang kolektor. Joseph Spartz telah tertarik pada benda bersejarah sejak muda dan gemar membaca hingga akhir hayatnya.
Spartz sempat menempuh studi ekonomi di Swiss dan berkarier sebagai pengusaha. Ia juga menghabiskan waktu lama di kawasan Asia Tenggara dan memilih Indonesia sebagai tempat tinggal selama lebih dari 40 tahun.
"Jakarta adalah metropolis yang energi, beragam budaya yang menambah keseruan, cita rasa, dan intensitas kehidupan. Dia sangat, dia jatuh cinta dengan Indonesia dan lebih dari 40 tahun menetap,"
Pameran ini membuka ruang baru bagi publik untuk melihat koleksi meriam tidak hanya dari sisi militer, tetapi juga sebagai tonggak perkembangan teknologi dan estetika masa lalu.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla Saat Kemarau 2026
Polri tetapkan 72 tersangka karhutla dari 89 laporan hingga 21 Agustus 2026; luas lahan terbakar tercatat 1....
BULOG Amankan Gudang di NTT Usai Gempa, Belajar dari Sibolga
BULOG memperkuat pengamanan gudang dan percepat distribusi pangan di NTT usai gempa, belajar dari penjarahan...
Dinas Pariwisata: Bali Aman, Belum Ada Laporan Kasus Zika
Dinas Pariwisata Bali menyatakan belum ada laporan kasus Zika per 23 Agustus 2026; wisatawan diimbau waspada...
PPPA Kirim Tim Trauma Healing dan Bantuan Logistik ke Anak Terdampak Gempa NTT
Kementerian PPPA kerahkan tim trauma healing dan kirim bantuan logistik fokus perempuan & anak ke NTT pasca-...
Gempa NTT Rusak 12 Gudang Bulog, Fokus Perbaikan di Ruteng
Gempa NTT merusak 12 gudang Bulog, terutama dinding dan pintu; perbaikan fokus di Ruteng dan distribusi stok...
Polri Tetapkan 72 Tersangka Karhutla di Sembilan Polda
Polri menetapkan 72 tersangka karhutla dari 89 laporan (Jan–21 Agustus 2026) dengan luas terbakar 1.006,67 h...