Sumut Pastikan Stok Sapi Kurban Aman, Prediksi Kebutuhan Capai 5.000
Medan, Sumatera Utara — Pemerintah Provinsi Sumatera Utara memastikan ketersediaan hewan kurban menjelang Idul Adha 2026 aman dan bahkan dalam kondisi surplus. Pernyataan itu disampaikan Sekretaris Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Yusfahri Perangin-Angin, saat konferensi di Kantor Gubernur Sumut, Rabu (20/5).
Stok dan prediksi kebutuhan
Awalnya kebutuhan sapi kurban diperkirakan sekitar 2.500 ekor, namun dinamika permintaan di masyarakat membuat pemerintah merevisi angka kebutuhan riil menjadi sekitar 5.000 ekor. Meski begitu, Pemprov menegaskan stok tetap terjamin.
"Kalau melihat dinamika permintaan, kebutuhan sebenarnya bisa mencapai sekitar 5.000 ekor. Tapi kita pastikan stok tetap aman,"
Surplus ternak dan distribusi antar wilayah
Sumut memiliki populasi ternak sapi sekitar 748.000 ekor, sehingga tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan daerah sendiri tetapi juga menjadi pemasok untuk provinsi lain. Menurut Yusfahri, daerah pengiriman rutin meliputi Sumatera Barat dan Pekanbaru.
"Sumatera Utara ini surplus. Bahkan peternak kita rutin mengirim sapi ke Sumatera Barat dan Pekanbaru,"
Meski demikian, distribusi antarwilayah tetap dilakukan untuk memenuhi kebutuhan di beberapa daerah terpencil. Pasokan hewan kurban ke Nias, Sibolga, dan wilayah Tapanuli diambil dari sentra peternakan di:
- Simalungun
- Langkat
- Binjai
Bantuan sapi dari presiden dan dampaknya
Selain stok lokal, Pemprov menerima bantuan 34 ekor sapi kurban dari Presiden. Sebanyak 33 ekor disalurkan ke kabupaten/kota, sementara 1 ekor dialokasikan untuk tingkat provinsi. Semua sapi bantuan berasal dari peternak lokal dengan bobot minimal 800 kilogram dan beberapa hingga 1,1 ton.
"Presiden memang mendorong agar sapi yang disalurkan memiliki bobot terbesar di wilayahnya,"
Program bantuan ini dinilai memacu peternak untuk meningkatkan kualitas dan bobot ternak lokal, sehingga memberi dampak positif bagi sektor peternakan regional.
Harga beras: bukan karena kekurangan stok
Terkait naiknya harga beras di pasaran, Yusfahri menegaskan kondisi itu tidak disebabkan oleh kurangnya produksi pangan. Pemerintah menilai kenaikan lebih dipengaruhi oleh biaya produksi dan distribusi, bukan stok yang menipis.
Pemprov Sumut terus bekerja menjaga keseimbangan antara stabilitas harga pangan dan kesejahteraan petani agar sektor pertanian tetap berkelanjutan dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang perayaan keagamaan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Rico Waas: Pelantikan ICMI Muda Medan Harus Jadi Aksi Nyata
Wali Kota Medan Rico Waas minta ICMI Muda Medan yang baru dilantik langsung bergerak dengan roadmap kerja da...
Tapanuli Highlands Festival 2026: Pulau Sibandang Tampil sebagai Destinasi Sport Tourism
Pulau Sibandang dan Muara dipromosikan lewat Tapanuli Highlands Festival 2026; 65 peserta mengikuti lomba re...
Kejati Aceh Gelar Seleksi Jabatan Eselon III.b dengan Sistem Merit
Kejati Aceh menggelar seleksi Jabatan Eselon III.b pada 2 Oktober 2026 menggunakan sistem merit untuk menjar...
Polsek Gunung Malela Tangkap Dua Pengedar Sabu di Siantar
Polsek Gunung Malela menangkap MD (45) dan AID (27) di Siantar, 30/9, serta menyita sabu dan barang bukti la...
Puluhan Remaja Masjid Al Ikhlas Gelar Tadabbur Alam di Medan
Puluhan remaja Masjid Al Ikhlas mengadakan Tadabbur Alam di Medan Selayang untuk mempererat ukhuwah dan meng...
Rico Waas Janji Tangani Banjir dan Tambah 10.000 CCTV di Medan
Wali Kota Medan Rico Waas janji solusi banjir di Kelurahan Beringin, rencanakan drainase, parit, pembersihan...