Rupiah Melemah ke Rp17.716 per Dolar, Tekanan dari Harga Minyak dan Sentimen Global
Rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, menjadi Rp17.716 per dolar AS, turun 0,28 persen atau 49 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan terjadi karena kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan arus keluar modal asing.
Penutupan Pasar dan Pergerakan Rupiah
Di akhir perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah ditutup lebih lemah dari hari sebelumnya. Penurunan sebesar 0,28 persen menunjukkan tekanan yang berkelanjutan pada mata uang domestik. Investor global tampak berhati-hati menjelang perkembangan geopolitik dan keputusan moneter di negara maju.
Faktor Eksternal: Ketegangan AS-Iran dan Harga Minyak
Analis memperingatkan bahwa pasar meragukan prospek perdamaian antara AS dan Iran. Langkah Iran mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz juga meningkatkan risiko pasokan minyak global. Akibatnya, harga minyak berpotensi tetap tinggi dan menjadi salah satu pendorong pelemahan rupiah.
"Investor meragukan prospek perdamaian AS-Iran, serta kebijakan Iran mengenakan pungutan bagi kapal yang melintas di Selat Hormuz. Sehingga harga minyak dunia berpotensi masih akan tinggi," kata Ibrahim Assuaibi, Analis Pasar Keuangan.
Dampak Kebijakan Moneter Global
Kenaikan harga minyak dapat mendorong inflasi global. Hal ini memengaruhi sikap bank sentral utama yang mungkin mempertahankan atau menaikkan suku bunga. Menurut analisis, Federal Reserve Amerika Serikat kemungkinan akan menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin sampai akhir tahun.
"Bank Sentral AS diprakirakan akan menaikkan suku bunga hingga 50 basis poin sampai akhir tahun," ujar Ibrahim, seraya menambahkan bahwa pengangkatan Kevin Warsh sebagai Ketua the Fed belum menandakan penurunan suku bunga di AS.
Risiko Fiskal Domestik dan Dampaknya
Dari sisi domestik, pidato Presiden di DPR dinilai mendapat sorotan internasional. Kekhawatiran pasar termasuk kemungkinan penurunan peringkat utang Indonesia oleh lembaga pemeringkat internasional karena tekanan fiskal yang diperkirakan melebar.
"Lembaga rating internasional S&P Global kemungkinan akan menurunkan peringkat utang Indonesia," kata Ibrahim, menambahkan bahwa tekanan fiskal diperkirakan akan melebar hingga sekitar 3 persen.
Ibrahim juga menyoroti target pertumbuhan ekonomi 2027 yang dinilai ambisius di kisaran 5,8–6,5 persen, yang turut menjadi perhatian penilai risiko kredit.
Upaya Pemerintah dan Aliran Modal
Pemerintah telah melakukan intervensi melalui penjualan surat berharga untuk menstabilkan pasar. Namun, langkah ini belum cukup kuat mengangkat rupiah. Arus keluar modal asing dari pasar saham justru semakin deras, sehingga tekanan pada rupiah bertambah.
Secara keseluruhan, kombinasi risiko geopolitik, kenaikan harga komoditas energi, kebijakan moneter global yang ketat, dan kekhawatiran fiskal domestik mendorong pelemahan nilai tukar. Pelaku pasar akan terus mengamati data inflasi, keputusan suku bunga global, serta kebijakan fiskal pemerintah untuk menentukan arah pergerakan rupiah ke depan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Juvelook Advanced Injector: Tingkatkan Kompetensi Dokter Estetika
Workshop Juvelook di Nusa Dua, 19 Juli 2026, tingkatkan kompetensi Juvelook Certified Injector lewat praktik...
IHSG Uji Support 6.300, Potensi Naik atau Koreksi
IHSG diperkirakan menguji support 6.300; BNI Sekuritas sebut potensi naik ke 6.700 atau koreksi ke 6.000-an...
BRI Life Resmikan Kantor Layanan Denpasar, Perkuat Pelayanan
BRI Life meresmikan wajah baru Kantor Layanan Denpasar untuk meningkatkan kenyamanan, kecepatan layanan, dan...
KAI Layani 258 Juta Pelanggan H1 2026 lewat PSO & Perintis
KAI melayani 258,99 juta pelanggan pada Semester I 2026; 90,8% memanfaatkan layanan bersubsidi PSO dan keret...
Rupiah Melemah ke Rp17.917 Meski BI Pertahankan Suku Bunga
Rupiah ditutup melemah 0,16% ke Rp17.917 pada 22 Juli 2026, meski BI mempertahankan BI Rate di 5,75% dan men...
BI Pertahankan BI Rate 5,75% dan Perkuat Insentif Kebijakan
BI mempertahankan BI Rate 5,75% dan memilih memperkuat insentif untuk stabilkan rupiah dan kendalikan inflas...