Rupiah Melemah ke Rp17.667 Seiring Penguatan Dolar dan Risiko Geopolitik
Rupiah ditutup melemah pada penutupan perdagangan Senin, 18 Mei 2026, menurun akibat penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan ketegangan geopolitik. Berdasarkan data Bloomberg, rupiah melemah 0,41% atau 71 poin menjadi Rp17.667 per dolar AS.
Angka penutupan dan tekanan pasar
Penurunan nilai tukar tercatat pada sesi perdagangan akhir pekan ini setelah dolar AS menguat. Tekanan eksternal menjadi faktor utama yang mendorong pelemahan rupiah, sementara sentimen domestik turut memperparah tekanan pasar.
Penguatan dolar dan ekspektasi suku bunga the Fed
Pelaku pasar menilai penguatan dolar didorong oleh risiko inflasi seiring kenaikan harga minyak. Kondisi ini memperkuat ekspektasi bahwa the Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Penguatan dolar AS terjadi karena meningkatnya risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak. Inflasi mendorong ekspektasi pelaku pasar terhadap prospek kebijakan suku bunga the Fed.
Menurut analis pasar uang, ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi membuat arus modal mengalir ke aset dolar, sehingga menekan mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Ketegangan geopolitik meresahkan pasar
Isu geopolitik juga memperburuk sentimen. Retorika soal aksi militer dan adanya serangan yang menarget fasilitas penting di kawasan Teluk memicu kekhawatiran eskalasi konflik. Pasar kecewa karena pertemuan antara pemimpin AS dan China belum menghasilkan solusi untuk meredam ketegangan di Timur Tengah.
Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Insiden yang masih diselidiki di Uni Emirat Arab dan klaim pencegahan serangan drone oleh Arab Saudi menambah ketidakpastian regional.
Faktor domestik: pernyataan publik dan sentimen pasar
Selain faktor global, pernyataan pejabat domestik ikut mempengaruhi pasar. Pernyataan Presiden terkait penggunaan dolar di desa memicu reaksi negatif dari pelaku pasar dan analis.
Sangat disayangkan, orang-orang di lingkaran Presiden tidak bisa mengarahkan pidato Presiden sesuai protokol yang ada. Ini merupakan koreksi untuk melakukan pembenahan agar tidak terulang lagi.
Prospek dan implikasi
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih akan rentan terhadap fluktuasi harga minyak, sinyal kebijakan suku bunga AS, dan perkembangan geopolitik. Pelaku pasar akan terus memantau pernyataan bank sentral, data inflasi, dan berita regional yang bisa memperburuk atau meredakan tekanan.
Secara keseluruhan, kombinasi faktor eksternal dan domestik menempatkan rupiah di bawah tekanan, sehingga volatilitas nilai tukar berpeluang berlanjut sampai ada kepastian kebijakan atau penurunan ketegangan global.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.