Ekonomi

Rupiah Melemah 0,09% ke Rp17.725 Saat Tanggal Merah

Bagikan:
Grafik pergerakan rupiah terhadap dolar AS menunjukkan pelemahan tipis pada 16 Juni 2026

Rupiah melemah tipis 0,09 persen atau 16 poin menjadi Rp17.725 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 16 Juni 2026, meski merupakan hari libur nasional. Pelemahan dipicu oleh sentimen global setelah Washington mengumumkan kesepakatan awal perdamaian dengan Iran dan kekhawatiran potensi tarif tambahan AS terhadap Indonesia.

Pergerakan pasar hari ini

Berdasarkan data Bloomberg di pasar valas luar negeri, rupiah ditutup turun pada akhir sesi perdagangan. Penurunan ini terjadi bersamaan dengan koreksi harga minyak dan menguatnya ekuitas global, yang menekan permintaan aset aman seperti dolar AS.

Dorongan geopolitik dan harga minyak

Pengumuman kesepakatan awal antara AS dan Iran juga menyusul kabar pembukaan kembali Selat Hormuz. Sentimen itu meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi, sehingga menekan harga minyak mentah.

"Pengumuman itu meredakan kekhawatiran akan inflasi tinggi dan menekan dolar AS," kata Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi.

Penurunan harga minyak memberi ruang bagi kenaikan pasar saham global karena ekspektasi biaya energi yang lebih rendah dapat meredam tekanan inflasi.

Kebijakan bank sentral yang diperhatikan

Pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh pergerakan suku bunga global. Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1 persen, level tertinggi dalam tiga dekade.

"Suku bunga itu merupakan level tertinggi dalam 31 tahun. Langkah menaikkan suku bunga bertujuan untuk menahan inflasi dan melanjutkan normalisasi kebijakan moneter secara bertahap," ujar Ibrahim.

Sementara itu Reserve Bank of Australia mempertahankan suku bunga sebesar 4,35 persen setelah tiga kali penurunan berturut-turut. Pasar kini menantikan arah kebijakan dari the Fed dan Bank of England serta komentar Ketua the Fed Kevin Warsh sebagai penentu ekspektasi suku bunga AS ke depan.

Ancaman tarif AS dan implikasi ekspor

Ibrahim juga mencermati potensi dampak kebijakan perdagangan AS. Kantor Perwakilan Dagang AS (USTR) telah menetapkan tarif tambahan 10 persen terhadap Indonesia dan lima negara lain terkait isu kerja paksa. Jika berlaku, tarif impor untuk produk Indonesia berpotensi meningkat menjadi 18 persen dari tarif global 10 persen yang berlaku sejak Februari 2026.

"Di tengah ancaman tersebut, pemerintah berupaya mengamankan sejumlah produk ekspor unggulan. Bagi Indonesia, pasar AS memiliki arti penting karena pasar nonmigas terbesar kedua bagi Indonesia," kata Ibrahim.

Nilai ekspor nonmigas Indonesia ke AS pada Januari–Juni 2025 mencapai USD14,79 miliar atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional. Komoditas yang dominan diekspor ke AS adalah produk manufaktur seperti mesin dan peralatan listrik, alas kaki, pakaian, serta aksesori.

Ke depan, pasar akan terus memantau perkembangan penandatanganan kesepakatan perdamaian yang rencananya berlangsung akhir pekan di Swiss, serta keputusan dan pernyataan bank sentral besar yang dapat mempengaruhi arah nilai tukar rupiah.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait