Pemerintah Targetkan Investasi 2027 Rp2.322 Triliun
Pemerintah menargetkan realisasi investasi nasional pada 2027 sebesar Rp2.322 triliun. Target itu diumumkan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, dalam konferensi pers RAPBN dan Nota Keuangan Tahun Anggaran 2027 di Gedung DJP, Jakarta, Jumat, 14 Agustus 2026. Pemerintah berharap realisasi ini memperkuat pertumbuhan ekonomi dan membuka lapangan kerja.
Kontribusi investasi terhadap pertumbuhan
Rosan menyampaikan bahwa investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Pada triwulan II 2026, ekonomi nasional tumbuh 5,29 persen secara tahunan, dengan kontribusi investasi sekitar 39 persen dari total pertumbuhan.
Angka kontribusi tersebut berada di atas kisaran normal yang umumnya berkisar 28–29 persen. Kondisi ini menandakan peran investasi yang semakin penting dalam mendorong ekspansi ekonomi.
Target lima tahunan dan perbandingan historis
Target investasi 2027 merupakan bagian dari sasaran nasional sebesar Rp13.032 triliun untuk periode 2025–2029. Pemerintah mencatat target lima tahunan ini meningkat sekitar 143 persen dibandingkan realisasi investasi dalam 10 tahun sebelumnya.
Lonjakan target lima tahunan menunjukkan upaya mempercepat aliran modal ke sektor-sektor prioritas dan meningkatkan kapasitas penyerapan ekonomi.
Realisasi semester I 2026 dan penyerapan tenaga kerja
Sampai semester I 2026, realisasi investasi tercatat sekitar Rp1.010,6 triliun, atau tumbuh 7,2 persen dibanding periode yang sama sebelumnya. Capaian itu menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja secara langsung, naik sekitar 15 persen.
Pemerintah menekankan angka penyerapan ini belum termasuk pekerjaan tidak langsung dan aktivitas pendukung yang muncul dari berbagai proyek investasi. Dengan demikian, dampak lapangan kerja diperkirakan lebih luas dari angka langsung yang tercatat.
Fokus pada manfaat nyata untuk masyarakat
Setiap rupiah investasi harus menciptakan lapangan pekerjaan yang baik dan berkualitas. Sekaligus juga memperbaiki kualitas hidup masyarakat kita.
— Rosan Roeslani
Rosan menegaskan bahwa peningkatan angka investasi tidak boleh menjadi tujuan semata. Investasi harus menghasilkan manfaat riil, terutama penciptaan lapangan kerja berkualitas dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pemerintah kini menghadapi tugas menerjemahkan target ambisius tersebut menjadi kebijakan dan program yang mendorong investasi produktif. Keberhasilan pencapaian target akan menentukan laju pemulihan dan ekspansi ekonomi ke depan.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
KAI Services Yogyakarta Gelar Fun Walk Rayakan HUT RI ke-81
KAI Services Regional 6 Yogyakarta menggelar Fun Walk pada 14 Agustus 2026 untuk memeriahkan HUT ke-81 RI, d...
5 Kiat Hadapi Bear Market Bitcoin Saat Harga Jauh dari ATH
Bitcoin turun dari ATH ke kisaran USD62–65 ribu; simak 5 kiat investasi saat bear market untuk mengelola mod...
Rupiah Menguat ke Rp17.827 Usai Pidato Nota Keuangan
Rupiah ditutup menguat 0,28% ke Rp17.827 per dolar pada 14 Agustus 2026, didorong pidato nota keuangan dan p...
APPKSI Desak Kepastian Lahan dan Pembayaran Sawit di Rokan Hilir
APPKSI desak penyelesaian sengketa lahan dan pembayaran sawit bagi 551 petani KSB di Rokan Hilir; minta PT T...
Satu Dekade CICIL: DPR Tekankan Tata Kelola Kuat
Komisi XI DPR mengingatkan pentingnya tata kelola saat PT CICIL merayakan 10 tahun; perusahaan catat akumula...
Kemendag Perkuat Campuspreneur untuk Dorong Wirausaha Kampus Ekspor
Kemendag memperkuat program Campuspreneur lewat kerja sama kampus, kurasi produk, dan fasilitasi pasar untuk...