Ekonomi

Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu

Bagikan:
Ilustrasi bambu dan produk olahan bambu menunjukkan potensi ekspor Indonesia

Kementerian Perindustrian melaporkan Indonesia menempati posisi 12 dunia dengan pangsa ekspor bambu sebesar 0,9 persen pada 2026. Data ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, pada 4 Oktober 2026. Kondisi tersebut menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan daya saing industri bambu nasional, terutama melalui penguatan pasokan bahan baku dan pengembangan teknologi.

Pangsa pasar dan proyeksi pertumbuhan

Pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan naik dari USD 74,0 miliar pada 2024 menjadi USD 118,3 miliar pada 2034. Pertumbuhan rata-rata diperkirakan mencapai sekitar 4,8 persen per tahun selama 2025–2034. Kawasan Asia Pasifik menjadi pasar terbesar, dengan nilai USD 41,5 miliar atau sekitar 56,2 persen dari pasar global pada 2024.

"Potensi tersebut menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan,"

kata Putu Juli Ardika.

Dominasi negara eksportir dan posisi Indonesia

Ekspor bambu global masih dikuasai Tiongkok dengan pangsa 74,8 persen. Posisi kedua ditempati Vietnam dengan pangsa 3,2 persen, sementara Indonesia berada jauh di belakang dengan 0,9 persen. Kondisi ini membuka ruang untuk peningkatan produksi dan ekspor melalui perbaikan rantai nilai.

Komposisi produk bambu di pasar global

Produk berbasis bambu yang mendominasi pasar global tersebar pada beberapa segmen. Berikut rincian persentasenya:

  • Furnitur: 28%
  • Scaffolding: 17%
  • Engineered bamboo: 16%
  • Pulp dan kertas: 13%
  • Charcoal and activated carbon: 10%
  • Kerajinan dan tekstil: masing-masing 6%

Peluang domestik: penerapan teknologi dan program perumahan

Program pembangunan tiga juta rumah per tahun membuka pasar baru untuk material lokal berbasis bambu. Salah satu teknologi yang disorot adalah cement-bamboo frame technology (CBFT), dinilai cocok untuk hunian tipe 36 karena karakteristiknya yang ringan dan mudah dirakit.

"Teknologi CBFT memiliki karakteristik ringan, dapat dirakit tanpa alat berat, dan berbasis bahan baku lokal,"

ujar Putu Juli Ardika.

Penguatan hulu dan pengembangan SDM

Kemenperin menilai pengembangan CBFT dan industri pengolahan bambu perlu ditopang oleh penyediaan bahan baku yang berkelanjutan dan terstandardisasi. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan kelembagaan penyedia bambu berkualitas.

Untuk mengatasi hal itu, Kemenperin menyelenggarakan Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026 di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali. Program ini diarahkan untuk menghasilkan SDM industri yang kompeten dan memperkuat penjaminan mutu bahan baku bambu.

"Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara,"

kata Putu,

"Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung SDM yang andal dalam mengelola rantai pasok."

Pelaksanaan AKB TA 2026 memberi penekanan pada penguatan sisi hulu. Peserta direkomendasikan sebagai offtaker atau penggiat hulu yang mampu memperbaiki tata kelola logistik bambu. Kegiatan ini juga melanjutkan capaian AKB 2025, termasuk kerja sama wilayah, latihan pembibitan, dan produksi bambu laminasi untuk mendukung pembentukan Pusat Logistik Industri Bambu.

Dengan perbaikan kelembagaan, standarisasi bahan baku, dan peningkatan kompetensi SDM, Indonesia memiliki peluang memperbesar pangsa di pasar ekspor bambu global dalam beberapa tahun mendatang.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait