Ekonomi

ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia

Bagikan:
Ilustrasi pasar modal dan platform keuangan digital di Indonesia

Asian Development Bank (ADB) menyetujui subprogram pertama Program Pendalaman Pasar Keuangan dengan dukungan pembiayaan sebesar USD650 juta. Keputusan ini diumumkan dalam pernyataan tertulis pada 4 Oktober 2026, dan bertujuan memperdalam pasar modal, memodernisasi ekosistem keuangan digital, serta mendukung pembiayaan berkelanjutan dan transisi di Indonesia.

Skema dan besaran pembiayaan

Subprogram pertama menerima fasilitas sebesar USD650 juta dari ADB. Pendanaan ini merupakan kelanjutan dari komitmen jangka panjang ADB terhadap penguatan sektor keuangan Indonesia.

Fokus reformasi

Program dirancang untuk memperkuat sistem keuangan nasional dalam tiga bidang utama. ADB menyatakan dukungan untuk kebijakan yang meningkatkan efisiensi, keamanan layanan digital, dan akses modal untuk proyek hijau.

  • Memperdalam pasar modal untuk memperluas opsi pembiayaan nonbank.
  • Memodernisasi ekosistem keuangan digital agar transaksi lebih aman dan inklusif.
  • Mendorong mobilisasi modal swasta untuk proyek ramah lingkungan dan transisi energi.

Direktur ADB untuk Indonesia, Bobur Alimov, mengatakan bahwa akses ke layanan keuangan digital yang aman membuka peluang masyarakat untuk menabung dan mempersiapkan masa depan.

Saat menggunakan layanan keuangan digital dengan aman, masyarakat berkesempatan lebih besar untuk menabung dan membangun masa depan.

Pengurangan hambatan pembiayaan hijau

ADB juga berkomitmen membantu Indonesia mengurangi hambatan dalam penerbitan instrumen pembiayaan berkelanjutan. Tujuannya adalah mempermudah akses pembiayaan bagi pelaku usaha agar mereka dapat berinvestasi dan menciptakan lapangan kerja.

Ketika pelaku usaha dapat mengakses pembiayaan dengan lebih mudah, mereka dapat berinvestasi, berkembang, dan menciptakan lapangan kerja.

Dampak terhadap pasar modal dan kebijakan

Upaya pendalaman pasar modal ini sekaligus dimaksudkan untuk mengurangi ketergantungan pembiayaan pada sektor perbankan. Pemerintah menautkan program ini pada target jangka panjang, termasuk Visi Indonesia Emas 2045 dan RPJMN 2025–2029.

Perkembangan pasar modal terbukti menjanjikan: pada 2025, bursa saham Indonesia dilaporkan berkontribusi hingga 66,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Kekuatan pasar modal yang lebih dalam diharapkan mendorong partisipasi investor lebih luas dan investasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.

Dengan dukungan ADB, pemerintah menempatkan reformasi keuangan sebagai instrumen utama untuk memperkuat ketahanan ekonomi dan menarik modal swasta bagi proyek-proyek hijau ke depan.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait