Ekonomi

DSI Dinilai Efektif Tekan Under Invoicing, Cakupan Diperluas

Bagikan:
Rosan Roeslani menjelaskan efektivitas DSI dalam konferensi pers 14 Agustus 2026

Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) dinilai mulai efektif menekan praktik under invoicing pada ekspor. CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengatakan klaim ini disampaikan pada konferensi pers di Kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, Jumat 14 Agustus 2026. Saat ini DSI memantau tiga komoditas strategis dan pemerintah berencana memperluas cakupan pengawasan.

Bagaimana DSI mendeteksi under invoicing

DSI mengintegrasikan data dari sejumlah kementerian dan lembaga untuk membandingkan nilai ekspor yang dilaporkan dengan harga acuan. Integrasi mencakup data dari Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, Kementerian Perdagangan, hingga Kementerian Pertanian.

Dengan penggabungan data itu, pemerintah dapat memantau aktivitas ekspor mulai dari pelabuhan, harga, volume, hingga negara tujuan. Hasilnya, perbedaan antara harga yang dilaporkan eksportir dan indeks harga acuan dapat terdeteksi lebih cepat dan menyeluruh.

Komoditas yang diawasi

Rosan mengatakan saat ini DSI mengawasi tiga komoditas ekspor strategis. Ketiga komoditas tersebut adalah batu bara, kelapa sawit termasuk Crude Palm Oil atau CPO, serta ferroalloy (paduan besi).

Keterangan langsung dari Rosan

Memang kalau dibilang ada under invoicing, DSI itu datanya kami ada, dan kami bisa lihat. Tetapi alhamdulillah ini sekarang sudah membaik, sangat-sangat membaik

Menurut Rosan, sebelum ada DSI masih terdapat kesenjangan laporan harga eksportir dengan indeks harga. Integrasi data antarlembaga kini memungkinkan pemantauan harga ekspor yang lebih komprehensif.

Perluasan cakupan dan program hilirisasi

Pemerintah masih mengevaluasi efektivitas pengawasan pada tiga komoditas yang sudah masuk DSI. Namun ke depan, arahan Presiden mendorong perluasan cakupan pengawasan ke komoditas ekspor lain.

Selain memperkuat pengawasan, pemerintah mendorong optimalisasi keuntungan BUMN untuk mendukung program hilirisasi. Pada Februari 2026 dan April 2026, Danantara bersama pemerintah melakukan peletakan batu pertama untuk total 26 proyek hilirisasi.

Beberapa proyek yang disebutkan mencakup:

  • Pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME)
  • Hilirisasi tembaga dan emas
  • Pengolahan garam industri
  • Pembangunan smelter alumina menjadi aluminium

Proyek-proyek ini dinilai berpotensi membuka puluhan ribu lapangan kerja baru dan memperkuat rantai nilai industri dalam negeri.

Strategi BUMN: upstreaming dan akuisisi

Pemerintah mendorong strategi upstreaming yang memanfaatkan laba BUMN untuk mengakuisisi perusahaan unggulan global. Tujuannya untuk memperoleh teknologi, manajemen, dan akses pasar yang memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

Danantara ditempatkan sebagai motor transformasi yang bertugas mengoptimalkan aset negara sekaligus mendorong peningkatan kapasitas industri nasional.

Implikasi dari penerapan DSI adalah peningkatan transparansi nilai ekspor dan berkurangnya kebocoran penerimaan negara. Jika cakupan DSI diperluas, dampak serupa diharapkan terjadi pada komoditas lain yang menjadi andalan ekspor Indonesia.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait