Pupuk Bersubsidi Terjaga, Kunci Kenaikan Produksi Beras
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman
Penurunan HET dan akses pupuk
Pemerintah menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen sejak akhir 2025. Selain itu, distribusi dipastikan mudah dijangkau petani agar biaya produksi turun dan pasokan stabil.
"Ketika petani di banyak negara menghadapi pupuk yang langka dan mahal, Pemerintah Indonesia justru menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen dan memastikan pupuk mudah diakses petani. Inilah salah satu kunci mengapa produksi pangan Indonesia terus meningkat," ujar Amran.
Stok dan realisasi penyaluran
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian menyatakan stok pupuk masih mencukupi hingga musim tanam berikutnya. Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 54,28 persen dari total alokasi nasional.
| Parameter | Volume (ton) | Persentase |
|---|---|---|
| Alokasi nasional | 9,55 juta | 100% |
| Realisasi hingga 25 Juni 2026 | 5,18 juta | 54,28% |
| Sisa tersedia | ~5,1 juta | 45,72% |
"Artinya, masih tersedia sekitar 45,72 persen atau kurang lebih 5,1 juta ton pupuk bersubsidi yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia," kata Andi Nur Alam Syah.
Pemerintah juga mempercepat distribusi untuk memastikan pupuk tiba tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran.
Tantangan global dan posisi Indonesia
Laporan Food Outlook Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) edisi Juni 2026 menunjukkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara. Indonesia menempati peringkat keempat dunia dengan proyeksi produksi sekitar 38,6 juta ton.
Sementara itu, produksi beras global diperkirakan turun sekitar 1,6 persen akibat perubahan iklim dan gangguan pasokan di negara produsen utama. Amran menilai capaian Indonesia menunjukkan kemampuan menjaga dan meningkatkan produksi meski tekanan eksternal meningkat.
Aksi daerah dan prospek musim tanam
Pemerintah mendorong pemerintah daerah, penyuluh, dan petani memanfaatkan pupuk bersubsidi serta alsintan modern, pompa air, dan traktor untuk mempercepat masa tanam. Langkah ini juga dimaksudkan mengantisipasi potensi dampak El Nino.
Menurut kebijakan kementan, semakin cepat tanam dilakukan pada kondisi yang memungkinkan, semakin besar peluang menjaga atau meningkatkan produksi pangan nasional.
Dengan ketersediaan pupuk yang terjaga, distribusi yang disederhanakan, dan program peningkatan produksi, pemerintah optimistis target swasembada pangan dapat terus diwujudkan melalui sinergi kebijakan dan kerja keras petani.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Basarnas Imbau Keluarga Korban KM Virgo Tidak Menunggu di Pelabuhan
Basarnas mengimbau keluarga korban KM Virgo agar tidak terus menunggu di pelabuhan; korban yang ditemukan ak...
Cara Mengurus Buku Nikah Rusak atau Hilang, Gratis di KUA
Buku nikah rusak atau hilang dapat diganti gratis di KUA tempat akad; ketahui persyaratan dan dasar hukumnya...
Mendag: Perlindungan Hak Pekerja Bukan Instrumen Politik
Mendag Budi Santoso menegaskan perlindungan hak pekerja bukan alat politik dan menekankan penanganan kerja p...
Produksi Padi Jan–Agust 2026 Capai 43,89 Juta Ton
Produksi padi Januari–Agustus 2026 tercatat 43,89 juta ton GKG, naik 0,07%; luas panen 8,32 juta ha dan prod...
Mendag: Penilaian 'Excess Capacity' Harus Berdasarkan Bukti
Mendag Budi Santoso minta penilaian 'excess capacity' dibuat berbasis bukti sektoral, dibahas dalam G20 TMM...
Pakar: Gugatan Syarat Pendidikan Wapres Seharusnya Ditolak MK
Pakar hukum menilai gugatan soal syarat pendidikan Wapres Gibran seharusnya tak dapat diterima MK karena sub...