Nasional

Wamendikdasmen Tinjau PJJ di Gorontalo: Pastikan Anak Tetap Belajar

Bagikan:
Wamendikdasmen meninjau kegiatan PJJ di SMAN 1 Gorontalo bersama gubernur

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Fajar Riza Ul Haq meninjau pelaksanaan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) di SMAN 1 Gorontalo pada awal pelaksanaan program. Kunjungan dilakukan untuk memastikan anak yang kembali belajar melalui PJJ mendapatkan pendampingan, motivasi, dan layanan agar dapat menyelesaikan pendidikan.

Tujuan kunjungan dan kondisi lapangan

Fajar tiba bersama Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, dan memantau kegiatan pembelajaran yang sudah berjalan sekitar satu minggu. SMAN 1 Gorontalo ditetapkan sebagai sekolah induk PJJ, dengan SMAN 2 Limboto dan SMAN 1 Gorontalo Utara sebagai sekolah mitra.

PJJ dipandang sebagai solusi fleksibel untuk menjangkau Anak Tidak Sekolah (ATS) dan mengikuti kebijakan pemerintah, termasuk Peraturan Presiden Nomor 3 Tahun 2026 tentang Pencegahan dan Penanganan Anak Tidak Sekolah. Pemerintah pusat menekankan penguatan sumber daya manusia melalui perluasan akses pendidikan.

Dialog langsung dengan murid dan orang tua

Dalam kunjungan itu, Wamendikdasmen berinteraksi langsung dengan murid PJJ, salah satunya Naila yang mengikuti pelajaran Biologi. Naila sempat berhenti sekolah karena masalah perundungan, namun kini kembali menempuh pendidikan via PJJ dan bercita-cita menjadi dokter.

Saya ingin menyampaikan selamat kepada adik-adik yang mulai menempuh PJJ. Terima kasih karena adik-adik tetap memilih melanjutkan belajar melalui PJJ, kata Fajar.

Sesi dialog juga melibatkan orang tua. Fajar berbicara dengan ibu dari salah satu peserta, Rizki, yang sebelumnya hanya sempat ikut MPLS lalu enggan kembali ke sekolah. Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga.

Perlu pendampingan intensif dari orang tua di rumah. Walaupun PJJ, saya juga mendorong ada pertemuan agar anak-anak lebih akrab, ujar Fajar.

Tantangan pelaksanaan PJJ

Guru dan kepala sekolah melaporkan bahwa tantangan PJJ tidak hanya soal konektivitas. Motivasi, kedisiplinan, dan konsistensi belajar menjadi kendala utama. Beberapa murid tinggal jauh dari pusat kota, memaksa guru mendatangi kecamatan untuk menjangkau mereka.

Menurut Kepala SMAN 1 Gorontalo, program sudah berjalan sekitar satu minggu dan memerlukan penyesuaian teknis serta pendekatan personal agar peserta betah.

Dukungan pemerintah daerah dan angka ATS

Gubernur Gusnar menegaskan komitmen pemerintah provinsi untuk mendukung PJJ, dari penemuan anak yang tidak sekolah hingga memastikan kenyamanan belajar. Ia menyebut jumlah ATS jenjang SMA di Gorontalo hampir 3.000 anak, sehingga inisiatif PJJ dianggap strategis untuk mengembalikan mereka ke bangku pendidikan.

PJJ itu perlu ada effort khusus, terutama mencari anak yang tidak sekolah. Kedua, bagaimana anak PJJ harus membuat anak anak betah dan nyaman mengikuti pembelajaran, kata Gusnar.

Gusnar juga menyetujui rencana pertemuan luring berkala antara siswa PJJ, guru, dan orang tua untuk meningkatkan ikatan sosial dan motivasi belajar.

Implikasi dan langkah ke depan

Peninjauan ini menegaskan bahwa PJJ memerlukan campur tangan multi-pihak: kementerian, pemerintah daerah, sekolah, guru, dan keluarga. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada upaya meningkatkan kualitas pembelajaran, pendampingan intensif, dan mekanisme monitoring agar peserta PJJ dapat menuntaskan pendidikan dan meraih cita-cita.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait