Nasional

Kemenperin Siapkan SDM Kelola Pusat Logistik Industri Bambu

Bagikan:
Pelatihan Akademi Komunitas Bambu untuk pengelolaan pusat logistik industri bambu

Kementerian Perindustrian menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola Pusat Logistik Industri Bambu melalui program Akademi Komunitas Bambu (AKB) Tahun Anggaran 2026. Kegiatan ToT dilaksanakan di Balai Diklat Industri Denpasar, Bali, dengan tujuan memperkuat rantai pasok hulu agar bahan baku bambu tersedia berkualitas, berstandar, dan berkelanjutan.

Program Akademi Komunitas Bambu 2026

AKB 2026 fokus pada penguatan sisi hulu rantai pasok bambu. Program ini telah dievaluasi dan disempurnakan untuk menitikberatkan peningkatan kemampuan teknis dan manajerial peserta. Kemenperin menyelenggarakan Training of Trainers (ToT) untuk mencetak tenaga yang mampu mengelola pusat logistik bambu secara profesional.

Siapa peserta dan peran SDM

Peserta AKB direkomendasikan oleh offtaker dan berasal dari pemasok atau penggiat bambu di sisi hulu. Mereka dipilih karena memiliki akses ke sumber bahan baku serta kemampuan memperbaiki tata kelola pusat logistik bambu.

“Bambu merupakan komoditas strategis yang tumbuh melimpah di Nusantara. Potensi tersebut akan semakin optimal apabila didukung SDM yang andal dalam mengelola rantai pasok,” ujar Putu Juli Ardika, Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin.

Tujuan penguatan hulu dan fungsi pusat logistik

Penguatan hulu bertujuan memenuhi kebutuhan industri terhadap bahan baku yang berkualitas, berjumlah memadai, berkelanjutan, dan terstandardisasi. Pusat Logistik Industri Bambu diharapkan menjadi simpul penting yang mengumpulkan, mengolah, mengawetkan, dan mendistribusikan bambu terstandar dan siap pakai untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Potensi pasar dan peluang ekspor

Pasar produk berbasis bambu global diproyeksikan meningkat dari USD 74 miliar (2024) menjadi USD 118,3 miliar (2034), dengan CAGR sebesar 4,8 persen pada periode 2025–2034. Saat ini China menguasai pangsa ekspor global 74,8 persen, Vietnam 3,2 persen, dan Indonesia berada di peringkat 12 dengan pangsa 0,9 persen.

“Potensi pasar global tersebut menjadi peluang yang perlu kita manfaatkan untuk meningkatkan peran Indonesia dalam rantai pasok industri bambu dunia,” kata Putu.

Capaian AKB 2025

AKB 2025 mencatat sejumlah capaian yang mendukung penguatan rantai pasok, antara lain:

  • Kerja sama bambu cendani peserta Purworejo dengan pengusaha di Bandung;
  • Pemetaan bambu di Jawa Barat dan Jawa Tengah;
  • Pembibitan 200 bibit bambu di Banyuwangi;
  • Penanaman 100 batang bambu di Mojokerto;
  • Pelatihan pengawetan dan pembuatan bambu laminasi di Tasikmalaya.

Prospek ke depan

Program AKB 2026 diarahkan mencetak Master Bambu yang memiliki kompetensi teknis dan manajerial untuk mendukung pembentukan pusat logistik di sejumlah provinsi: Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur. Upaya ini diharapkan memperkuat integrasi rantai pasok bambu dari hulu hingga hilir serta meningkatkan peran Indonesia di pasar global.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait