Kekeringan Meteorologis vs Hidrologis: Apa Bedanya?
Kekeringan masih melanda sejumlah daerah di Indonesia hingga awal Oktober 2026. Di Jawa Timur, 25 wilayah meminta bantuan air bersih bagi warga terdampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan perbedaan antara kekeringan meteorologis dan hidrologis serta implikasinya bagi ketersediaan air.
Apa itu kekeringan meteorologis?
Kekeringan meteorologis muncul ketika curah hujan berada di bawah kondisi normal dalam periode tertentu. Indikator utamanya adalah penyimpangan curah hujan dari nilai rata-rata.
BMKG memantau fenomena ini dengan menggunakan Standardized Precipitation Index (SPI). SPI mengukur sejauh mana curah hujan menyimpang dari normal dan menjadi dasar penentuan tingkat kekeringan.
Sebagai alat pemantauan tambahan, BMKG juga mencatat Hari Tanpa Hujan (HTH), yaitu periode berturut-turut saat curah hujan kurang dari satu milimeter.
Kategori kekeringan menurut SPI
- Agak kering
- Kering
- Sangat kering
Apa itu kekeringan hidrologis?
Kekeringan hidrologis berkaitan dengan penurunan ketersediaan air pada sumber-sumber air seperti waduk, sungai, dan air tanah. Kondisi ini berkembang setelah periode kekurangan hujan yang berkepanjangan.
Defisit curah hujan mengurangi pengisian ulang cadangan melalui siklus hidrologis, sehingga volume air di danau, waduk, dan aliran sungai menurun.
Perbedaan utama
Perbedaan mendasar terletak pada indikator yang digunakan. Kekeringan meteorologis fokus pada curah hujan, sedangkan kekeringan hidrologis fokus pada sumber daya air.
Kekeringan meteorologis sering menjadi tanda awal. Jika hujan terus menurun, dampaknya baru akan terlihat kemudian pada sumber air dan pasokan bagi kebutuhan sehari-hari.
Dampak dan pemantauan
Dampak kekeringan hidrologis meliputi berkurangnya pasokan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan industri. Sektor pertanian sangat rentan karena memerlukan pasokan air yang berkelanjutan untuk produksi.
Pemantauan kedua jenis kekeringan diperlukan agar otoritas dan pengelola sumber daya air dapat mengambil tindakan mitigasi. Data SPI dan HTH membantu merancang langkah pengelolaan dan distribusi air darurat.
Penutup
Secara ringkas, kekeringan meteorologis dan hidrologis memiliki indikator berbeda tetapi saling terkait. Pemantauan terintegrasi diperlukan untuk mendeteksi awal tanda kekeringan dan mencegah krisis air yang lebih luas.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenko PM: Kolaborasi Kunci Pemberdayaan UMKM dan Ekonomi Kreatif
Kemenko PM: kolaborasi pemilik lahan, local champion, dan pemerintah jadi kunci pemberdayaan UMKM dan ekonom...
Zulhas: Pangkas Aturan, RI Berhenti Impor 7 Komoditas Pangan
Zulhas: pemangkasan aturan dorong RI hentikan impor tujuh komoditas, naikkan penyerapan pupuk dan surplus be...
Gempa M 6,1 Guncang Sumba Barat Daya, Sejumlah Rumah Rusak
Gempa M 6,1 mengguncang Sumba Barat Daya pada 4 Okt 2026, merusak sejumlah rumah dan membuat warga batal ber...
APP Group Dorong Transfer Pengetahuan Antar Generasi Pekerja
APP Group mendorong transfer pengetahuan dari karyawan senior ke generasi muda melalui Long Service Award 20...
Kemenperin Dorong IKM Fesyen Baca Pasar lewat Design Canvas
Kemenperin mendorong IKM fesyen gunakan Design Canvas & Maker untuk menciptakan produk sesuai kebutuhan kons...
Basarnas Ungkap Risiko Penyelaman KM Virgo: Gelap & Kontaminasi
Basarnas sebut penyelaman di kecelakaan KM Virgo berisiko tinggi: visibilitas rendah, debris, kontaminasi, d...