Nasional

BPS: Produksi Padi & Jagung Naik Tipis pada Semester I 2026

Bagikan:
Ilustrasi petani memanen padi dan jagung di lahan pertanian

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi padi dan jagung pada semester I 2026 meningkat tipis, dengan data terbaru untuk bulan Juni dan kumulatif Januari–Juni 2026. Kenaikan padi didorong oleh perluasan area panen, sementara jagung mengalami penurunan luas panen pada bulan Juni namun tetap tumbuh secara kumulatif.

Ringkasan Juni 2026

Pada Juni 2026, luas panen padi tercatat 0,84 juta hektare, naik 6,93% dibanding Juni 2025 yang seluas 0,79 juta hektare. Produksi padi tercatat mencapai 4,29 juta ton GKG, naik 7,02% dari 4,01 juta ton GKG pada Juni 2025. Produksi beras pada bulan yang sama mencapai 2,47 juta ton, naik 6,96% tahun ke tahun.

Kinerja padi Semester I 2026

Secara kumulatif, luas panen padi Januari–Juni 2026 mencapai 6,31 juta hektare, meningkat 0,81% dibanding periode yang sama tahun lalu. Produksi padi pada semester I mencapai 33,58 juta ton GKG (naik 0,46%), dan produksi beras mencapai 19,35 juta ton (naik 0,45%).

Proyeksi Juli–September 2026

BPS memperkirakan potensi luas panen padi untuk Juli–September 2026 turun 1,26% menjadi 3,15 juta hektare dibandingkan periode sama tahun lalu. Potensi produksi padi untuk tiga bulan ke depan diperkirakan 16,25 juta ton GKG (turun 0,90%), sementara potensi produksi beras diperkirakan 9,36 juta ton (turun 0,88%).

Kinerja jagung

Luas panen jagung pada Juni 2026 tercatat 0,25 juta hektare, turun 1,41% dibanding Juni 2025. Akibatnya, produksi jagung pipilan kering kadar air 14% (JPK KA 14%) pada Juni 2026 diperkirakan mencapai 1,50 juta ton, turun 3,73% dari tahun sebelumnya.

Meski turun pada bulan Juni, produksi jagung secara kumulatif Januari–Juni 2026 mencapai 8,70 juta ton JPK KA 14%, meningkat 1,62% dibanding Januari–Juni 2025.

Implications dan prospek

Kenaikan produksi padi pada semester I menunjukkan ketahanan pasokan beras secara musiman, namun proyeksi penurunan luas panen pada kuartal berikutnya berpotensi menekan produksi. Sementara itu, jagung menunjukkan pemulihan kumulatif meski terdapat fluktuasi bulanan. Pemantauan produksi dan ketersediaan bahan pangan tetap diperlukan untuk merespon perubahan musim tanam dan permintaan pasar.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait