FAO: Produksi Beras Indonesia Peringkat Ke-4 Dunia, 38 Juta Ton
Indonesia tercatat sebagai produsen beras keempat terbesar di dunia menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) dengan produksi mencapai 38 juta ton. Pernyataan itu disampaikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangan pers pada 27 Juni 2026. Pemerintah melihat posisi ini sebagai bukti peningkatan produksi dan ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim.
Rangking dan data produksi
Menurut keterangan resmi Menteri, FAO mengumumkan peringkat tersebut dan mencatat angka produksi beras Indonesia sebesar 38 juta ton. Pencapaian ini menempatkan Indonesia di urutan keempat dunia dalam hal produksi beras. Hasil itu dipandang sebagai indikator keberhasilan upaya peningkatan produktivitas di sektor pertanian.
Dorong hilirisasi dan dukungan untuk petani
Pemerintah juga terus mendorong program hilirisasi untuk komoditas pertanian seperti kakao, kelapa, dan tebu. Total luasan lahan yang masuk program tersebut mencapai sekitar 870 ribu hektare. Program ini mencakup distribusi bibit unggul, pengolahan lahan, dan pendampingan penanaman untuk meningkatkan hasil panen.
Lebih lanjut, program diarahkan untuk membuka lapangan kerja baru di hilir sekaligus meningkatkan nilai tambah produk pertanian. Dengan cara ini pemerintah berharap manfaat ekonomi tersebar hingga ke petani skala kecil.
Apresiasi dan tantangan ke depan
Menteri Amran menyampaikan apresiasi kepada petani dan nelayan atas peran mereka dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Ia menekankan bahwa capaian produksi bukan semata angka, melainkan hasil kerja keras di lapangan.
"FAO mengumumkan produksi kita tertinggi nomor empat dunia mencapai 38 juta ton. Itu diumumkan oleh FAO, bukan kita yang mengumumkan,"
"Terima kasih atas kerja keras petani dan nelayan Indonesia. Yang telah berperan dalam menjaga pangan nasional,"
Sementara itu, tantangan seperti perubahan iklim dan ketidakpastian pasar global tetap mengancam stabilitas produksi. Oleh sebab itu, pemerintah terus menekankan pentingnya teknis budidaya yang adaptif, investasi infrastruktur pertanian, serta pengembangan hilirisasi untuk meningkatkan ketahanan dan kemandirian pangan.
Ke depan, upaya meningkatkan produktivitas dan memperkuat rantai nilai di sektor pertanian akan menjadi fokus utama agar capaian produksi ini berkelanjutan dan memberi manfaat ekonomi lebih luas bagi petani.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Komisi IV Apresiasi Pemangkasan Aturan Distribusi Pupuk
Komisi IV mengapresiasi pemangkasan 145 aturan dan penurunan harga pupuk untuk mempercepat distribusi pupuk...
Wapres Dukung Percepatan Ekosistem Kendaraan Listrik
Wapres Gibran meninjau United E-Motor Plant 3 di Tangerang, mendukung percepatan ekosistem kendaraan listrik...
Kemnaker Alokasikan Rp6,26 T untuk Magang dan Vokasi 2026
Kemnaker mengalokasikan Rp6,26 triliun untuk magang dan vokasi 2026, dengan target 150.000 magang dan perlin...
Kementras Tekankan SDM Jadi Fokus Pembangunan Transmigrasi
Kementerian Transmigrasi menegaskan pembangunan transmigrasi harus prioritaskan pengembangan SDM untuk mendo...
Kemhan: Calon Manajer Kopdes Ikut Latsarmil Bukan untuk Bertempur
Kemenhan menegaskan Latsarmil bagi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih bukan untuk bertempur, melainkan...
Bioetanol Aren Sudah Diuji: Klaim BRIN Lebih Irit
BRIN uji bioetanol dari aren di motor 27 Juni 2026 di Bogor; hasil klaim lebih irit dan bertenaga, namun mas...