Prangko Seri Revolusi: Jejak Perjuangan Kemerdekaan
Prangko Seri Revolusi adalah serangkaian prangko yang terbit pada 1946-1947 untuk memperingati satu tahun kemerdekaan Republik Indonesia. Prangko ini diterbitkan di Indonesia pada masa awal revolusi, menampilkan gambar-gambar peristiwa, simbol, dan kondisi sosial-politik yang terjadi saat itu. Selain berfungsi sebagai alat pembayaran pos, prangko ini merekam narasi perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Sejarah penerbitan
Sebelum merdeka, prangko yang beredar di Nusantara diterbitkan oleh pemerintahan Belanda dan Jepang. Setelah Proklamasi, pemerintah Indonesia mulai mencetak prangko sendiri sebagai bagian dari identitas negara baru. Seri yang dikenal sebagai Prangko Seri Revolusi muncul pada 1946-1947 sebagai peringatan satu tahun kemerdekaan dan bentuk komunikasi resmi dari negara muda.
Desain dan simbolisme
Setiap prangko memuat lebih dari angka nominal dan tulisan Republik Indonesia. Desain menampilkan berbagai momen penting dan simbol perjuangan. Salah satu gambar menonjol adalah banteng memutus rantai, yang menggambarkan upaya bangsa melepaskan diri dari penjajahan.
Seri ini juga merangkum pertempuran besar dan suasana perang, antara lain:
- Pertempuran Bandung Lautan Api
- Pertempuran Surabaya
- Pertempuran Ambarawa
- Rapat raksasa di Lapangan Ikada
Selain adegan pertempuran, ada desain yang menampilkan Tentara Angkatan Udara, pasukan berkuda, serta pemandangan sipil seperti Pelabuhan Tanjung Perak dan Gerbang Air Wonokromo di Surabaya. Pilihan gambar ini memperkaya makna prangko sebagai dokumen visual era revolusi.
Peran prangko sebagai media informasi
Di masa itu, prangko berfungsi pula sebagai medium penyampai informasi. Ilustrasi dan teks pada prangko membantu publik mengenali peristiwa-peristiwa perjuangan di berbagai daerah. Dengan jangkauan pos yang luas, gambar pada prangko ikut membentuk ingatan kolektif masyarakat muda Indonesia.
Nilai koleksi dan warisan sejarah
Saat ini, Prangko Seri Revolusi menarik perhatian kolektor filateli dan peneliti sejarah. Kelangkaan beberapa desain dan cerita di balik setiap gambar memberi nilai historis dan ekonomis tersendiri. Para peneliti memanfaatkan prangko ini untuk memahami aspek budaya visual dan propaganda pada masa revolusi.
Secara keseluruhan, selembar prangko kecil itu merekam berbagai sisi perjuangan setelah Proklamasi. Dari simbol banteng yang memutus rantai hingga adegan pertempuran, prangko tersebut menjadi salah satu jejak visual penting tentang bagaimana bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemendikdasmen Siapkan Pelatihan Berkelanjutan untuk Guru Pengguna PID
Kemendikdasmen meluncurkan pendampingan berkelanjutan bagi guru penerima PID lewat LMS, YouTube, pelatihan,...
Kemenperin Perkuat Mutu Industri Pupuk, Dukung Ketahanan Pangan
Kemenperin memperkuat standardisasi dan jaminan mutu industri pupuk lewat audiensi BSPJI Pontianak untuk per...
Jejak KH Wahid Hasyim: Dari Pesantren ke Perumusan Negara
KH Wahid Hasyim, ulama dan negarawan kelahiran Jombang, berperan dalam BPUPKI dan pembentukan Kementerian Ag...
Perjuangan Ki Hajar Dewantara: Mendirikan Taman Siswa untuk Bangsa
Ki Hajar Dewantara memperjuangkan pendidikan merdeka sejak kolonial; mendirikan Taman Siswa pada 1922 dan me...
Daftar Gempa Besar NTT dan Respons Pemerintah 2026
BNPB catat ratusan gempa susulan setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agustus 2026; pemerintah aktifkan posko pe...
Menko PM: Keselamatan Prioritas Usai Gempa 7,7 di NTT
Menko PM Muhaimin Iskandar pastikan keselamatan warga jadi prioritas setelah gempa 7,7 mengguncang NTT; peme...