Kemenperin Buka Ruang Gen Z untuk Kembangkan Industri Batik
Kementerian Perindustrian membuka peluang bagi generasi muda atau Gen Z untuk berkontribusi mengembangkan industri batik. Pernyataan itu disampaikan Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza saat Community Engagement bertajuk "Make Your Move: Your Journey to the Future of Industry" pada rangkaian Industrial Festival x Hari Batik Nasional 2026 di Surabaya, Sabtu, 3 Oktober 2026. Tujuannya untuk melestarikan warisan budaya sekaligus memanfaatkan potensi ekonomi batik.
Pertumbuhan industri dan data ekspor
Faisol menegaskan peran sektor industri nonmigas dalam perekonomian. Pada triwulan II 2026, industri pengolahan nonmigas tumbuh 5,32% year-on-year, sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29%. Sektor ini memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar sebesar 0,97 persen.
Potensi spesifik industri batik juga tercermin dari ekspor. Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, ekspor produk batik pada 2025 naik 32,50% menjadi USD 20,14 juta dibandingkan 2024. Angka ini menunjukkan peluang pasar luar negeri yang masih bisa dikembangkan.
Ruang dan peran Gen Z
Menurut Faisol, Gen Z bisa masuk ke berbagai ranah industri batik, mulai dari desain hingga pemasaran digital. Kolaborasi antarperajin dan generasi muda menjadi salah satu model yang diharapkan mendorong inovasi dan daya saing produk.
"Pelestarian juga perlu berjalan bersama upaya. Hal ini untuk membuat para perajin batik mampu bertahan dan berkembang,"
Faisol memberi contoh konkret: mahasiswa dengan kemampuan fotografi, penulisan, pembuatan katalog digital, dan pemasaran e-commerce dapat membantu perajin menjangkau pasar lebih luas.
"Ketika keduanya ini bertemu maka menjadikan sebuah kolaborasi yang kuat. Dan hal tersebut dapat menjadi bentuk kontribusi konkret dari generasi muda atau Gen Z,"
Inovasi produk dan keberlanjutan
Ruang inovasi terbuka untuk pengembangan desain batik yang relevan dengan aktivitas modern, seperti untuk kuliah, bekerja, hingga kegiatan sehari-hari. Faisol menekankan pentingnya menjaga makna motif dan asal-usul batik saat melakukan perubahan desain.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian. Generasi muda yang peduli lingkungan dapat berkontribusi menciptakan praktik produksi yang lebih hemat air dan ramah bahan baku, sehingga mendukung usaha perajin dalam jangka panjang.
Prospek dan tantangan
Penguatan industri batik dipandang tidak hanya sebagai upaya pelestarian budaya, tetapi juga strategi ekonomi yang membuka lapangan kerja dan meningkatkan nilai tambah. Keberhasilan bergantung pada sinergi antarpemangku kepentingan: perajin, pemerintah, akademisi, dan pelaku digital.
Dengan dukungan teknologi, desain, dan pemasaran yang tepat, industri batik berpeluang memperluas pasar domestik dan ekspor sekaligus memastikan regenerasi ke generasi berikutnya.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mendag: Pangan Bukan Instrumen Tekanan Geopolitik
Mendag Budi Santoso menegaskan pangan tak boleh jadi alat tekanan geopolitik dan mendorong solusi WTO untuk...
MenPPPA Pastikan Pendampingan Terbuka bagi Korban Perundungan
MenPPPA Arifah Fauzi memastikan layanan pendampingan tetap tersedia bagi anak korban perundungan; Kemenkes b...
Tokoh Konghucu Budi Tanuwibowo Masuk Wantimpres
Budi Tanuwibowo dilantik jadi anggota Wantimpres; ia terharu karena komunitas Konghucu yang minoritas mendap...
MenPPPA Pastikan Penanganan Perundungan Anak di Tangsel
MenPPPA Arifah Fauzi pastikan penanganan dugaan perundungan anak di Tangerang Selatan prioritaskan keamanan,...
Komdigi Minta Operator Ubah Paket Non-Rollover
Komdigi minta operator segera ubah paket non-rollover agar sisa kuota dilindungi secara ekonomi, bukan hanya...
Komdigi: Notifikasi Tak Cukup Lindungi Sisa Kuota Internet
Komdigi menilai notifikasi belum cukup untuk melindungi sisa kuota internet; beberapa operator masih mengand...