Geo Dipa: Potensi Panas Bumi Indonesia Baru 11% Tergarap
Direktur Utama Geo Dipa Energi, Yudistian Yunis, menyatakan pada Jumat, 2 Oktober 2026 di Bogor bahwa potensi panas bumi Indonesia mencapai 24 GW, namun baru sekitar 11 persen atau setara 2,7 GW yang telah dikembangkan. Pernyataan itu disampaikan dalam Media Briefing Kementerian Keuangan dan menyoroti kendala biaya, waktu, serta persepsi publik yang menghambat percepatan pengembangan.
Potensi besar, capaian kecil
Menurut Yudistian, sumber daya panas bumi Indonesia setara dengan hampir 40 persen potensi dunia. Meski demikian, pengembangan untuk pembangkit listrik baru berlangsung terbatas.
Dia menekankan bahwa posisinya Indonesia sebagai negara yang mulai serius mengembangkan panas bumi baru belakangan, terutama setelah isu perubahan iklim mendorong transisi ke energi baru dan terbarukan.
Hambatan teknis dan finansial
Pengembangan panas bumi menghadapi tantangan biaya dan risiko tinggi. Proses eksplorasi dan pemboran membutuhkan modal besar dan tidak selalu berhasil mendapatkan uap yang ekonomis.
"Biaya ngebor untuk satu sumur membutuhkan biaya antara 6-8 juta dolar AS, kalau nggak dapet uapnya kita deg-degan," ujar Yudistian.
Waktu pemboran juga tidak singkat. Menurutnya, pemboran sedalam 2.000 meter saja dapat memakan waktu sekitar 45 hari, belum termasuk analisis dan pengujian lanjutan.
Persepsi publik dan isu lingkungan
Satu lagi hambatan adalah pemahaman masyarakat. Ada kekhawatiran bahwa konsesi panas bumi mencakup puluhan ribu hektare dan akan menyebabkan kerusakan hutan.
"Begitu pemerintah bilang panas bumi punya area konsesi sekian puluh ribu hektar. Bayangan masyarakat kita itu, wah sekian puluh ribu hektare itu akan dibabat hutan kita sehingga terjadi penentangan," kata Yudistian.
Yudistian mengajak penjelasan yang lebih intensif agar publik memahami bahwa pengelolaan panas bumi bisa menerapkan teknik yang minim gangguan lingkungan.
Upaya pemerintah dan peluang investasi
Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengumumkan 14 lokasi eksplorasi baru. Total potensi di lokasi tersebut sekitar 732 MW dan diperkirakan memerlukan tambahan investasi sebesar 400 juta dolar AS untuk tahap eksplorasi.
"Kita masih memiliki peluang investasi yang sangat besar di sektor geothermal," ujar Yudistian.
Geo Dipa Energi sendiri adalah perusahaan di bawah special mission vehicle Kementerian Keuangan yang mengoperasikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di Dieng, Jawa Tengah, dan Patuha, Jawa Barat.
Implikasi dan prospek
Jika hambatan finansial, teknis, dan sosial berhasil ditangani, pengembangan panas bumi berpotensi meningkatkan porsi energi terbarukan di bauran listrik nasional. Panas bumi menawarkan pasokan listrik yang stabil sepanjang tahun, tidak tergantung kondisi cuaca seperti beberapa sumber energi terbarukan lain.
Ke depan, sinergi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat lokal diperlukan untuk mempercepat eksplorasi dan realisasi kapasitas baru.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Sapu Lidi Indonesia Tembus Pasar Dunia, Nilai Puluhan Juta
Sapu lidi Indonesia diminati banyak negara; ekspor 2024 senilai US$23 juta dan lidi nipah-sawit 2023 capai U...
Akhir Pekan: Rupiah Menguat ke Rp17.882 di Tengah Kekhawatiran Global
Rupiah menguat ke Rp17.882 per dolar AS pada penutupan 2 Oktober 2026, terdorong sentimen geopolitik, ekspek...
IHSG Ditutup 6.036,89 pada 2 Okt 2026, Mayoritas Saham Melemah
IHSG ditutup di 6.036,89 pada 2 Okt 2026, turun 0,46%; mayoritas saham melemah dengan transaksi Rp11,79 tril...
IHSG Turun 0,32% ke 5.990 pada Jeda Perdagangan 2 Okt
IHSG sesi I turun 0,32% ke 5.990,20 pada 2 Oktober 2026. Volume tinggi dan tekanan jual mendominasi meski be...
IHSG Dibuka Menguat 0,14% ke 6.018,08, Sentimen Minyak & Inflasi Jadi Perhatian
IHSG dibuka menguat 0,14% ke 6.018,08 pada 2 Oktober 2026; sentimen minyak, inflasi, dan ketegangan geopolit...
Rupiah Menguat Dibuka, Risiko Tekanan dari Kenaikan Harga Minyak
Rupiah dibuka menguat ke Rp17.910 per dolar, namun berisiko melemah karena kenaikan harga minyak dan ketegan...