Nasional

Menhut: Ada Penambahan Titik Panas dan Risiko Karhutla 2026

Bagikan:
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni berbicara soal potensi kebakaran hutan 2026

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan ada tren penambahan daerah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berpotensi muncul pada 2026. Pernyataan itu disampaikan sebelum mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026. Pengamatan hot spot menunjukkan enam provinsi berisiko, dan muncul perluasan potensi ke daerah lain yang memiliki lahan gambut luas.

Provinsi yang masih berpotensi

Menurut monitoring titik panas, Raja Juli menyebut ada enam provinsi yang masih menjadi sorotan untuk 2026. Nama provinsi tersebut ia sebutkan secara langsung saat ditemui wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan.

  • Riau
  • Jambi
  • Sumatera Selatan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Selatan

Selain itu, ia mengingatkan adanya tren baru meningkatnya potensi karhutla pada wilayah di luar daftar utama tersebut.

"Di daerah-daerah gambut ya; Riau, Jambi, Sumsel, kemudian Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Tapi ini ada tren baru di luar 6 provinsi itu juga terjadi cukup masif, semacam di NTT, kemudian di NTB, di beberapa tempatlah,"

Tren penambahan wilayah rawan

Raja Juli menjelaskan penambahan titik panas ini berkaitan erat dengan keberadaan lahan gambut yang luas. Karena itu, daerah-daerah berlapis gambut menjadi catatan penting yang akan disampaikan langsung kepada Presiden.

Transisi cuaca dan pola iklim turut dikaitkan dengan risiko yang lebih luas. Menurut Menhut, fenomena seperti El Nino mempengaruhi potensi kebakaran, namun upaya penanggulangan telah menunjukkan hasil.

Perkembangan data karhutla

Dalam penjelasannya, Raja Juli memaparkan perkembangan luas terdampak karhutla dari beberapa periode terakhir. Ia menyoroti keberhasilan penekanan kejadian kebakaran melalui penanganan terpadu lintas instansi.

"Kita berhasil menekan karhutla, dari tahun 2015 ya itu 2,6 juta, kemudian 4 tahun kemudian menjadi 2,1 juta ya. Empat tahun kemudian, 2023 menjadi 1,1 juta, tahun lalu juga turun dari 375 jadi 350-an (karhutla),"

Strategi: sinergi dan koordinasi

Menhut menegaskan bahwa penurunan angka karhutla tidak lepas dari kolaborasi antar kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan. Ia menekankan perlunya peningkatan koordinasi seiring munculnya tren baru potensi kebakaran.

"Jadi sebenarnya kita bisa menekan itu (karhutla), cuman ini butuh koordinasi yang lebih rekat lagi, lebih ketat lagi karena memang ini El Ninonya, 'climate change is real'. Jadi kita perlu bersama-sama mengantisipasi,"

Implikasi dan langkah ke depan

Catatan Menhut memberi sinyal perlunya penajaman peta risiko dan kesiapsiagaan pada wilayah gambut dan daerah yang baru terindikasi. Peningkatan patroli, pemantauan hot spot, dan penguatan kerjasama lintas sektor menjadi langkah yang ditekankan untuk menghadapi musim kering berikutnya.

Rapat terbatas dengan Presiden akan menjadi momen penyampaian catatan strategis tersebut dan penentu langkah kebijakan nasional dalam antisipasi karhutla 2026.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait