Nasional

Terapi Seni Bantu Pulihkan Trauma Anak, Ini Cara dan Perannya

Bagikan:
Anak menggambar sebagai terapi seni untuk pulihkan trauma

Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Dewi Rosyana, menegaskan seni dapat membantu memulihkan trauma anak setelah peristiwa sulit. Pernyataan itu disampaikan dalam dialog radio pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Menurut Dewi, art terapi memberi ruang ekspresi tanpa tekanan langsung untuk menceritakan pengalaman traumatis.

Seni sebagai media pemulihan trauma

Dewi menjelaskan art terapi adalah bentuk psikoterapi yang menggunakan proses kreatif dan hasil karya seni sebagai medianya. Terapi ini memberi kesempatan anak mengekspresikan perasaan yang sulit disampaikan secara verbal. Bentuknya beragam, seperti melukis, kolase, mewarnai, hingga sculpting.

“Art terapi ini salah satu bentuk psikoterapi yang menggunakan medianya seni. Ada proses kreatif, ada hasil karya seninya,”

Langkah praktis terapi seni untuk anak

Menurut Dewi, proses dimulai dengan menciptakan lingkungan yang aman bagi anak. Setelah itu, anak diberi instruksi ringan, misalnya menggambar perasaan atau tempat yang membuatnya nyaman. Penting bahwa psikolog tidak memaksa anak menggambar kejadian traumatis.

“Jadi kita tidak meminta dia untuk menggambar traumanya. Psikolognya tidak memaksakan korban untuk menggambar tentang kejadiannya,”

Peran pendamping dan keluarga

Dewi menekankan peran pendamping dan keluarga sangat penting dalam pemulihan. Pendamping membantu anak bercerita tanpa memaksakan pembahasan pengalaman traumatis. Tujuannya adalah mengembalikan rasa kendali anak atas kehidupannya.

“Yang mau kita bantu itu bagaimana caranya aku bisa ngatur hidup aku lagi. Jadi bagaimana caranya anak itu bisa mengembalikan rasa kontrol dalam kehidupannya,”

Keluarga diminta sabar dan menunggu anak siap berbicara. Jangan memaksa anak menceritakan apa yang terjadi ketika ia belum siap.

Latihan pernapasan untuk menurunkan tekanan

Selain seni, Dewi menyarankan teknik relaksasi sederhana untuk menurunkan respons stres setelah trauma. Ia menyebut latihan pernapasan bisa dilakukan secara terstruktur untuk menenangkan tubuh dan pikiran.

“Teknik relaksasi melalui tarik napas empat detik, tahan empat detik, buang empat detik. Itu dilakukan berulang-ulang untuk membantu menurunkan hormon stress,”

Proses pemulihan tidak instan dan membutuhkan dukungan berkelanjutan dari lingkungan. Pendekatan kombinasi antara terapi seni, pendampingan empatik, dan teknik relaksasi memberi peluang lebih besar bagi anak untuk pulih secara emosional.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait