PMI Manufaktur Naik ke 50,0, Menperin: Industri Perkuat Stok Bahan Baku
Jakarta, 2 Juni 2026 — Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 mencapai 50,0, naik dari 49,1 pada April 2026. Kenaikan ini menandakan sektor manufaktur kembali berada pada ambang ekspansi, didorong langkah antisipatif pelaku industri memperkuat stok bahan baku.
Kenaikan PMI dan Indeks Kepercayaan Industri
Kenaikan PMI menunjukkan daya tahan industri di tengah tantangan global. Menurut Agus, pergerakan ini sejalan dengan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang juga meningkat pada Mei 2026.
IKI tercatat sebesar 53,56 pada Mei, naik dari 51,75 di bulan sebelumnya. Kondisi ini mengindikasikan optimisme pelaku industri dalam mempertahankan aktivitas produksi meskipun risiko eksternal tetap ada.
Strategi Perkuat Stok Bahan Baku
Agus menjelaskan kenaikan PMI dipengaruhi oleh peningkatan persediaan bahan baku. Perusahaan memilih menambah cadangan untuk mengantisipasi gangguan pasokan dan potensi kenaikan harga impor.
Peningkatan PMI manufaktur Indonesia Mei 2026 mencerminkan respons industri menjaga keberlangsungan produksi di tengah dinamika global yang masih berlangsung. Pelaku industri melakukan langkah antisipatif dengan memperkuat stok bahan baku,
Dia menyebut struktur impor Indonesia didominasi bahan baku dan bahan penolong, sekitar 70 persen. Sekitar 15 persen adalah barang modal, sedangkan sisanya barang konsumsi.
Banyak perusahaan kini meningkatkan cadangan hingga kebutuhan produksi selama enam bulan, dari sebelumnya rata-rata tiga bulan. Langkah ini terutama penting bagi sektor dengan proses produksi berkelanjutan.
Industri yang Rentan dan Alasan Menyimpan Stok
Contoh industri yang membutuhkan kesiagaan tinggi antara lain petrokimia, keramik, kaca, dan pengolahan nikel. Jika fasilitas seperti petrokimia berhenti total, waktu pemulihan kapasitas normal bisa mencapai dua minggu atau lebih.
Jika fasilitas produksi seperti petrokimia dihentikan total, waktu yang dibutuhkan untuk kembali mencapai kapasitas normal bisa cukup lama, paling sedikit sekitar dua minggu,
Selain mengamankan pasokan, peningkatan stok juga dimotivasi oleh keterbatasan kemampuan perusahaan menyesuaikan harga jual secara cepat saat harga bahan baku naik.
Perusahaan manufaktur harus menjaga keseimbangan antara keberlanjutan produksi dan daya saing harga produk. Ketika harga bahan baku berpotensi meningkat, mereka memilih mengamankan pasokan terlebih dahulu karena penyesuaian harga jual ke pasar tidak bisa dilakukan secara instan,
Dampak dan Prospek
Gabungan kenaikan PMI dan IKI menjadi sinyal bahwa sektor manufaktur masih memiliki resiliensi kuat. Industri tetap menjaga aktivitas produksi sambil mengantisipasi risiko eksternal.
Ke depan, stabilitas rantai pasok dan fluktuasi harga impor akan menjadi faktor penentu kelanjutan ekspansi. Pemerintah dan pelaku industri diharapkan terus berkoordinasi untuk menjaga pasokan dan daya saing sektor manufaktur.
Berita Terkait
KAI Services Resmikan Mess Transit Frontliner di Surabaya
KAI Services meresmikan Mess Responsibility di Stasiun Surabaya Kota pada 12 Juni 2026 untuk hunian transit...
KAI Services Buka Kemitraan UMKM di Kampus IPB
KAI Services membuka kemitraan UMKM untuk masuk ke jaringan kereta; sosialisasi digelar 12 Juni 2026 di Kamp...
Penumpang Stasiun Cibadak Naik 6,46% Januari–Mei 2026
Penumpang Stasiun Cibadak naik 6,46% menjadi 74.281 pada Jan–Mei 2026, memperkuat peran kereta api dalam mob...
Perpanjangan Peron Stasiun Bogor Capai 62,31 Persen
Perpanjangan peron 6-8 Stasiun Bogor mencapai 62,31% per 12 Juni 2026 untuk menampung kereta 12 unit dan ant...
MIND ID Catat Pendapatan Rp159,46 T pada 2025, Hilirisasi Dorong Pertumbuhan
MIND ID raih pendapatan Rp159,46 triliun pada 2025; hilirisasi dan sinergi grup dorong laba dan kontribusi k...
Akhir Pekan: Rupiah Menguat 128 Poin ke Rp17.860
Rupiah ditutup menguat 128 poin ke Rp17.860 akhir pekan ini, terdorong meredanya risiko geopolitik dan senti...