Rupiah Dibuka Melemah, Terdorong Kekhawatiran Perang di Timur Tengah
Rupiah dibuka melemah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa, 18 Agustus 2026. Menurut data Bloomberg, kurs pembukaan tercatat Rp17.846 per dolar AS, turun 0,27 persen atau 48 poin dari penutupan akhir pekan lalu.
Pemicunya: ketegangan geopolitik dan harga minyak
Pelemahan ini dipicu oleh kembali meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Berakhirnya kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran pada 17 Agustus 2026 memunculkan kekhawatiran pasar akan kemungkinan perang baru di kawasan.
Perkembangan politik tersebut mendorong kenaikan harga minyak mentah, yang kemudian menekan sentimen terhadap mata uang berisiko seperti rupiah.
Keterangan analis dan perkiraan pergerakan
Analis pasar memprediksi langkah melemahnya rupiah sejak awal perdagangan. Salah satunya Lukman Leong dari Doo Financial Futures yang menyatakan potensi pelemahan pada hari ini.
"Rupiah berpotensi melemah terhadap dolar AS hari ini,"
Lukman menambahkan bahwa eskalasi konflik dan kenaikan harga energi membuat investor global memilih aset aman, seperti dolar AS.
Pergerakan pasar energi dan indeks dolar
Sentimen geopolitik terkorelasi langsung dengan harga minyak. Data menunjukkan harga minyak Brent naik sekitar 2,65 persen menjadi USD90,87 per barel. Sementara itu, harga minyak WTI naik sekitar 2,55 persen ke level USD84,50 per barel.
Di sisi lain, indeks dolar AS diperkirakan bergerak cenderung melemah di kisaran 99,53-99,64, namun masih mendukung permintaan terhadap dolar di tengah gejolak geopolitik.
Proyeksi nilai tukar rupiah hari ini
Menjelang perdagangan lebih lanjut, pasar memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.750-Rp17.850 per dolar AS. Rentang ini mencerminkan respons pasar terhadap berita geopolitik dan fluktuasi harga minyak.
Pada akhir pekan lalu, rupiah sempat menguat ke Rp17.827 per dolar AS setelah pasar merespons positif pidato kenegaraan dan Nota Keuangan RAPBN 2027 yang disampaikan Presiden. Namun, sentimen eksternal saat ini mengambil alih kendali arah pasar.
Ke depan, arah rupiah akan sangat tergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah dan pergerakan harga minyak global. Investor mengikuti ketat setiap informasi terkait kemungkinan negosiasi atau eskalasi lanjutan.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
KA Mutiara Timur Layani 304.522 Penumpang Jan–Sep 2026
KA Mutiara Timur layani 304.522 penumpang Jan–Sep 2026, naik 22,78%; konektivitas ke Banyuwangi dan Ketapang...
ADB Gelontorkan USD650 Juta untuk Pendalaman Pasar Keuangan Indonesia
ADB setujui dukungan USD650 juta untuk memperdalam pasar modal, modernisasi keuangan digital, dan dorong pem...
OJK Targetkan Lima Bank Syariah Beraset Besar pada 2027
OJK menargetkan lima bank syariah beraset besar pada 2027 lewat konversi dan konsolidasi, dengan BSI sebagai...
Kenaikan PTKP Dinilai Angin Segar untuk Daya Beli
Ekonom FEB UI nilai kenaikan PTKP dapat menjaga daya beli dan memperkuat keadilan pajak; pembahasan lanjut d...
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.