Ekonomi

Ekspor Mainan Indonesia Naik 8,2% Jadi Rp11,91 T pada 2025

Bagikan:
Grafik kenaikan ekspor mainan Indonesia menjadi Rp11,91 triliun pada 2025

Ekspor industri mainan IndonesiaUSD 664,6 juta (Rp11,91 triliun) pada 2025, naik 8,2 persen dibanding 2024, kata Kementerian Perindustrian.

Kinerja ekspor dan tren kenaikan

Nilai ekspor 2025 mencerminkan prospek positif bagi industri mainan nasional. Dalam lima tahun terakhir, sektor ini tercatat mengalami surplus bersih ekspor.

Perbaikan berlanjut pada awal 2026. Nilai ekspor pada Januari–Juni 2026 mencapai USD 351,8 juta (Rp6,31 triliun), naik dari USD 297,7 juta (Rp5,34 triliun) pada periode sama 2025.

Pasar ekspor dan peluang pertumbuhan

Menurut Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kemenperin Reni Yanita, beberapa negara tujuan utama membuka ruang penetrasi lebih luas.

Pasar ekspor Indonesia saat ini antara lain Amerika Serikat, Inggris, Cina, Australia, dan Republik Ceko. Capaian tersebut masih membuka ruang yang besar bagi Indonesia untuk meningkatkan penetrasi dan kontribusi di pasar global

Reni menilai industri mainan berpotensi sebagai sektor padat karya dan penghasil nilai tambah. Produknya diproduksi oleh pelaku usaha dari skala mikro hingga besar di berbagai daerah.

Industri mainan memiliki fondasi produksi yang dapat terus diperkuat untuk meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional. Secara nasional, industri mainan telah menjadi bagian dari ekosistem industri yang melibatkan pelaku usaha dari skala kecil hingga besar

Struktur industri, tenaga kerja, dan sentra IKM

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik 2024 dan Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) 2025, tercatat 256 unit usaha industri mainan yang menyerap 15.663 tenaga kerja dan memiliki 10 sentra Industri Kecil dan Menengah (IKM).

Provinsi Jumlah Sentra IKM
Jawa Tengah 4
Jawa Timur 1
Jawa Barat 5

Peningkatan kandungan lokal dan strategi pasar domestik

Kemenperin mendorong penerapan P3DN untuk memperkuat pasar domestik dan meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Hingga 2026, sebanyak 65 pelaku industri mainan telah memiliki sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).

Kita perlu memperkuat pasar domestik melalui penerapan standar, peningkatan penggunaan produk dalam negeri, serta penguatan daya saing. Agar produk mainan buatan Indonesia semakin diminati di pasar nasional dan mampu memperluas penetrasi di pasar internasional

Reni menyoroti segmen produk pendidikan dan pembelajaran interaktif sebagai peluang yang perlu dioptimalkan.

Hal ini memberikan peluang bagi industri mainan untuk mengembangkan produk. Seperti mainan edukatif, permainan konstruksi, puzzle, dan board game

Selain membuka pasar ekspor, penguatan TKDN diharapkan memperbesar peluang produk lokal masuk ke rantai pasok pemerintah dan pengadaan.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan industri mainan nasional untuk memenuhi kandungan dalam negeri telah mulai terbentuk dan perlu terus diperluas. Agar semakin banyak produk lokal yang dapat masuk ke pasar pengadaan pemerintah

Penguatan standar, peningkatan penggunaan komponen lokal, dan pemanfaatan peluang segmen edukatif diharapkan mendorong pertumbuhan ekspor serta daya saing industri mainan Indonesia ke depan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait