Manus Kembali Mandiri setelah Beijing Blokir Akuisisi Meta
Beijing. Startup kecerdasan buatan Manus mengumumkan pada Selasa bahwa perusahaan akan kembali beroperasi sebagai perusahaan independen, setelah otoritas Beijing memblokir rencana akuisisi oleh Meta. Keputusan ini memaksa penghapusan sebagian data sejak akhir Desember, dan Manus mendesak pengguna untuk mencadangkan data mereka.
Mengapa Manus kembali mandiri
Manus menyatakan pemisahan ini diperlukan untuk mematuhi persyaratan regulasi di beberapa wilayah. Peralihan status dilakukan beberapa bulan setelah rencana Meta mengakuisisi Manus, yang dikembangkan oleh startup Butterfly Effect, dilaporkan bernilai sekitar US$2 miliar.
Perusahaan memberi tahu pengguna bahwa beberapa data yang tercatat sejak akhir Desember akan dihapus, dan meminta agar pengguna melakukan backup data yang terdampak.
"This is part of our separation from Meta; we must take this step to comply with regulatory requirements in specific parts of the world," Manus said in a blog post.
Dampak pada pengguna dan data
Manus menegaskan langkah penghapusan data merupakan konsekuensi langsung dari pemisahan. Pengguna didesak mencadangkan material penting segera untuk menghindari kehilangan data. Perusahaan belum mengumumkan jadwal rinci penghapusan atau mekanisme recovery bagi akun yang terdampak.
Latar belakang pemblokiran dan respons
Rencana akuisisi oleh Meta digagas untuk membawa agen AI tersebut ke basis pengguna yang lebih luas. Namun, badan perencanaan ekonomi tertinggi China memutuskan memblokir transaksi pada April lalu dan memerintahkan penarikan akuisisi itu. Saat bersamaan, dilaporkan otoritas memberlakukan pembatasan perjalanan terhadap dua salah satu pendiri Manus.
"the transaction complied fully with applicable law", Meta previously told AFP in a statement.
Keputusan ini juga terkait dengan kebijakan keras terhadap praktik yang disebut Singapore-washing, yaitu perpindahan perusahaan untuk memanfaatkan regulasi atau peluang di luar China. Menurut pengamat, kasus Manus menandai titik balik dalam pengawasan teknologi seiring meningkatnya persaingan AS-China di sektor AI.
Wendy Chang at the Mercator Institute for China Studies said, "the Manus case marks a major turning point" and signaled that bypassing regulasi nasional tidak akan ditoleransi.
Masa depan kepemilikan dan investor
Beberapa investor lama Manus dilaporkan sedang berdiskusi untuk mengambil kembali saham di perusahaan dengan valuasi sekitar US$2 miliar. Jika terjadi, perusahaan teknologi besar seperti Tencent disebut-sebut berpeluang menjadi pemegang saham terbesar.
Ke depan, Manus harus menavigasi tekanan regulasi internasional sekaligus memulihkan kepercayaan pengguna dan calon investor untuk melanjutkan pengembangan agen AI-nya.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
PPKS dan BPDP Perkenalkan Kelapa Sawit ke Siswa SD di Medan
PPKS dan BPDP mengajak siswa SD di Medan belajar kelapa sawit lewat kunjungan edukatif dan praktik di fasili...
Tahun Baru Mars 2026: Planet Merah Mulai Putaran Baru
Planet Mars resmi memasuki tahun baru pada 30 Sep 2026; satu tahun Mars setara sekitar 687 hari Bumi dan ter...
Crew-13 Meluncur ke ISS, Empat Astronot Gabung Ekspedisi 75
NASA dan SpaceX meluncurkan Crew-13 ke ISS pada 1 Oktober 2026; empat astronaut dijadwalkan bergabung dengan...
Teleskop Roman Tangkap Cahaya Pertama dari Awan Magellan Besar
Nancy Grace Roman lulus uji pandu presisi dan Coronagraph-nya menangkap cahaya pertama dari Awan Magellan Be...
Kemkomdigi Perketat Pengawasan Ruang Digital, Takedown Konten Krusial 4 Jam
Kemkomdigi memperketat pengawasan ruang digital dengan takedown konten krusial maksimal 4 jam dan mengajak p...
Keuntungan dan Risiko Investasi Emas, Harga Terbaru
Harga emas Pegadaian terkoreksi 29 Sept 2026; emas tetap jadi pilihan lindung nilai namun punya risiko seper...