Rupiah Turun ke Rp17.839 Usai Gencatan Senjata AS-Iran Gagal
Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS pada Selasa, 2 Juni 2026, ke level Rp17.839 per USD seiring meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah upaya gencatan senjata antara AS dan Iran berakhir tanpa kata sepakat.
Ringkasan pergerakan pasar
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah terkoreksi 0,19 persen atau 34 poin menjadi Rp17.839 per dolar AS. Pelemahan ini muncul bersamaan pernyataan Iran yang menangguhkan negosiasi langsung dengan Washington, sementara Presiden AS Donald Trump masih berharap pembicaraan bisa dilanjutkan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Pengaruh geopolitik AS-Iran dan konflik regional
Ketegangan global menjadi faktor utama penurunan rupiah hari ini. Selain ketegangan AS-Iran, laporan gencatan senjata parsial antara Israel dan Hizbullah di Lebanon turut menjadi perhatian pasar karena potensi eskalasi di kawasan. Kondisi itu mendorong investor mencari aset safe-haven, sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang meningkat.
Kebijakan tarif AS
Di tengah gejolak, pemerintah AS mengumumkan perubahan tarif impor untuk beberapa komoditas. Trump menandatangani kebijakan penurunan tarif impor tertentu, termasuk tarif 15 persen untuk beberapa jenis peralatan bergerak. Perubahan tarif ini juga menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar global dan aliran modal.
Data domestik: inflasi, perdagangan, dan PMI
Pasar domestik juga mencermati rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang memengaruhi sentimen ekonomi. Secara tahunan, inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat 3,08 persen. BPS melaporkan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,09 pada April menjadi 111,40 pada Mei 2026.
"Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026,"
Secara bulanan inflasi Mei tercatat 0,28 persen, dan inflasi tahun kalender pada Januari–Mei mencapai 1,35 persen.
BPS juga mencatat neraca perdagangan Indonesia tetap mencatat surplus hingga April 2026, menjadikan surplus berjalan selama 72 bulan berturut-turut. Secara kumulatif Januari–April 2026, surplus tercatat USD 5,64 miliar, turun dibandingkan USD 11,07 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Aktivitas manufaktur menunjukkan perbaikan: Indeks Manajer Pembelian (PMI) kembali ke zona ekspansi di angka 50 pada Mei 2026, naik dari 49,1 pada bulan sebelumnya. Peningkatan PMI didorong oleh kenaikan permintaan domestik dan pesanan baru.
"Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari,"
Prospek dan implikasi
Gabungan faktor eksternal—ketidakpastian geopolitik dan perubahan tarif—serta data domestik membuat volatilitas di pasar valuta asing berlanjut. Bank sentral dan pelaku pasar akan memantau perkembangan negosiasi internasional serta data inflasi dan perdagangan berikutnya untuk menilai tekanan pada rupiah ke depan.
Berita Terkait
Rupiah Tembus Rp17.966 per Dolar, Tertekan Konflik AS-Iran
Rupiah melemah 0,71% ke Rp17.966 per dolar pada penutupan 3 Juni 2026, dipicu ketegangan AS-Iran, lonjakan h...
Pertamina Diminta Perkuat Eksplorasi dan Kemitraan Global
Pengamat Benny Lubiantara minta Pertamina perkuat eksplorasi, EOR, dan kemitraan global untuk jaga ketahanan...
Indonesia Perkuat Perdagangan dengan Cili lewat Forum Bisnis
Indonesia perkuat hubungan perdagangan dengan Cili lewat forum bisnis di Santiago; CEPA dan promosi pameran...
IPF Dorong Sinergi Atasi Tekanan di Industri Kemasan Plastik
IPF mendorong kolaborasi dan pengembangan kemasan sirkular untuk meredam tekanan berat pada industri kemasan...
Industri Kemasan Plastik Tertekan Pelemahan Rupiah dan Krisis Pasokan
Pelemahan rupiah dan krisis pasokan impor (PE, PP, PET) tekan industri kemasan plastik; pengiriman melambat...
IHSG Anjlok 4,11% ke 5.941, Transaksi Rp25,16 T pada 3 Juni
IHSG turun 4,11% ke 5.941 pada 3 Juni 2026, terdorong pelemahan rupiah, naiknya harga minyak, dan penilaian...