Gaya Hidup

Pendiri Bali Comedy Club: Warga Asing Harus Adaptasi Usai Kasus Klub Lari

Bagikan:

Jakarta. Christian Giacobbe, pendiri Bali Comedy Club, menyerukan agar warga asing yang tinggal di Indonesia menghormati kebiasaan lokal dan menyesuaikan diri setelah kasus klub lari di Bali yang dituding mengecualikan warga Indonesia.

Inti pernyataan

Dalam video yang diunggah di Instagram pada Jumat, komedian berkewarganegaraan Italia itu, yang telah tinggal di Indonesia selama sembilan tahun, mengingatkan bahwa warga asing adalah tamu di negara ini. Ia menegaskan bahwa mereka tidak berhak menuntut agar Indonesia menyesuaikan diri untuk mereka.

"I've been living in Indonesia for nine years and I love Indonesia. But even after nine years, I know that I'm still a guest. It's always important to remember as a foreigner that Indonesia doesn't have to adapt for me. I need to adapt for Indonesia," kata Giacobbe.

Reaksi komunitas ekspatriat

Video Giacobbe dilengkapi montage beberapa ekspatriat lain — beberapa berbicara lancar bahasa Indonesia — yang menguatkan pesan yang sama. Ia juga mengkritik sikap hipokrit beberapa warga asing yang sering mengeluh soal imigran di negara asal mereka, namun tidak menghormati komunitas lokal saat tinggal di luar negeri.

"The funny thing to me is that many of the people that constantly disrespect the local community are the same people who complain about immigrants in their own country... We are immigrants. I'm proud to be an immigrant in Indonesia."

Kronologi kasus dan klaim diskriminasi

Kasus ini bermula dari tudingan bahwa sebuah komunitas lari di Bali, Entourage Run di Canggu, hanya menerima peserta warga asing untuk sebuah event jalanan. Giacobbe sebelumnya menyoroti pesan yang ia terima dari peserta yang mengaku ditolak.

Ia mencontohkan pasangan suami istri — wanita berkewarganegaraan Indonesia dan suaminya berkebangsaan Jerman — yang mencoba mendaftar secara terpisah. Menurut Giacobbe, sang suami diterima sedangkan sang istri ditolak. Ia menampilkan tangkapan layar percakapan yang diklaim berasal dari pasangan dan penyelenggara.

Tindakan imigrasi

Polemik ini mendorong otoritas imigrasi untuk memasukkan dua warga Belanda yang diduga menjadi penyelenggara ke dalam daftar hitam dan melarang mereka kembali ke Indonesia setelah berangkat ke Singapura. Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan bahwa kegiatan seperti itu tidak boleh menciptakan "negara dalam negara".

"There cannot be a state within a state. This running event was a form of creating a state within a state," ujar Hendarsam.

Kedua warga Belanda itu disebut berinisial JAS (35) dan HQV (37). Satu memegang izin tinggal terbatas untuk pekerjaan, dan satunya berstatus visa investor. Menurut Hendarsam, kegiatan yang diselenggarakan warga asing harus konsisten dengan tujuan izin tinggal mereka.

Tanggapan penyelenggara dan penilaian Giacobbe

Entourage Club kemudian meminta maaf, menyatakan bahwa sistem onboarding otomatis tak sengaja memperkenalkan bias dalam proses pendaftaran. Giacobbe meragukan penjelasan itu dan menilainya sebagai tanggapan yang tidak memadai.

"The bias was automated. It means that they made an option -- because when you want to join, you have to put your nationality -- that if you put 'Indonesia,' you were automatically kicked out. And of course they're very sorry," sindir Giacobbe secara sinis.

Implikasi

Kasus ini menimbulkan diskusi luas tentang batas penyelenggaraan acara oleh warga asing dan pentingnya sensitivitas budaya di lingkungan multikultural. Selain reputasi penyelenggara, peristiwa ini juga memperjelas kewenangan imigrasi dalam menegakkan ketentuan izin tinggal.

Ke depan, pengelola acara diharapkan meninjau mekanisme pendaftaran dan aturan partisipasi agar tidak melanggar prinsip inklusivitas dan regulasi setempat.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait