Teknologi

Siloam Perkuat Layanan Neuroscience dengan Teknologi dan Kolaborasi

Bagikan:
Konferensi pers Siloam tentang penguatan layanan neuroscience di Indonesia

Siloam menegaskan perlunya penguatan sumber daya manusia, teknologi, dan kolaborasi untuk mengembangkan layanan neuroscience di Indonesia. Pernyataan itu disampaikan pada Press Conference The 2nd Siloam Neuroscience Summit 2026, Sabtu, 19 September 2026. Upaya ini ditujukan agar layanan neurologi dan bedah saraf bisa menjangkau lebih banyak pasien di berbagai daerah.

Penguatan SDM dan pendidikan spesialis

Chief Medical Officer Siloam International Hospital, Grace Frelita, menyatakan pengembangan layanan neuroscience harus disertai peningkatan kompetensi tenaga medis. Saat ini jaringan Siloam memiliki sekitar 152 neurolog yang tersebar di seluruh fasilitas mereka di Indonesia.

Untuk memperkuat kapasitas, Siloam mengembangkan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) yang berfokus pada peningkatan keterampilan klinis dan bedah. "Saya harap semakin banyak dokter memiliki kemampuan yang baik sehingga pelayanan neuroscience dapat menjangkau lebih banyak pasien," ujar Grace Frelita pada konferensi pers.

Peran teknologi dalam tindakan bedah saraf

Neurosurgeon Prof. Julius July menekankan teknologi harus berjalan beriringan dengan pengetahuan dan keterampilan tenaga medis. Menurutnya, teknologi membantu dokter melihat serta menangani kondisi yang sulit diamati secara langsung.

"Teknologi itu bersinergi dengan pengetahuan kita dan menjadi pendamping dalam tindakan medis," ujar Prof. Julius July.

Ia memberi contoh teknik endoskopi yang memungkinkan operasi dilakukan melalui sayatan kecil sekitar 2–2,5 sentimeter. Pendekatan ini membantu mengoptimalkan tindakan sekaligus meminimalkan kerusakan jaringan.

Kolaborasi lintas disiplin dan teknologi BCI

Neurologist dan Neurological Pain Subspecialist, Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, menyoroti pentingnya kolaborasi antara dokter dan ahli teknologi, termasuk pengembangan artificial intelligence (AI) serta brain-computer interface (BCI). Ia menekankan bahwa pengembangan teknologi tidak cukup jika dilakukan oleh dokter saraf sendirian.

"Pemanfaatan BCI untuk membantu pasien stroke membutuhkan kerja sama antara dokter neurologi dan ahli AI. Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu memahami komunikasi dan keinginan pasien yang mengalami keterbatasan akibat stroke," kata Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan.

Penanganan pasien neurologi juga memerlukan sinergi lintas bidang. Kolaborasi diperlukan dari tahap diagnosis hingga pengobatan untuk meningkatkan outcome pasien.

  • Radiologi
  • Patologi anatomi dan neuropatologi
  • Laboratorium klinis
  • Ahli AI dan teknisi perangkat medis

Akses layanan dan pemerataan

Dalam konferensi pers juga disorot tren pasien Indonesia yang mencari perawatan di luar negeri. Dikatakan banyak pasien ditemukan saat kunjungan ke rumah sakit di Penang, berkisar 70–80% dalam pengamatan tertentu. Kondisi ini mendorong kebutuhan membangun kepercayaan masyarakat pada layanan domestik.

Untuk itu, Siloam menekankan pemerataan teknologi dan tenaga terlatih agar pasien tidak selalu harus ke Jakarta atau luar negeri untuk mendapatkan perawatan berkualitas. Langkah ini diharapkan memperkuat layanan neuroscience secara nasional dan meningkatkan akses bagi pasien di daerah.

Dengan penguatan SDM, penerapan teknologi yang tepat, serta kolaborasi multidisiplin, Siloam menargetkan layanan neuroscience yang lebih terjangkau dan berkualitas untuk masyarakat Indonesia.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait