Ekonomi

Ekspor Florikultura Capai Rp3,51 Triliun, Diminati 96 Negara

Bagikan:
Kontainer dan tanaman hias siap ekspor dari Indonesia

Ekspor florikultura IndonesiaRp3,51 triliun pada periode Januari hingga 14 September 2026, terdiri dari 59,6 juta komoditas yang dikirim ke 96 negara. Data ini menunjukkan tanaman hias Indonesia berkembang sebagai komoditas bernilai ekonomi dan menarik pasar internasional.

Data ekspor dan jenis komoditas

Badan Karantina Indonesia mencatat volume ekspor mencakup bibit dan bunga dari berbagai spesies. Contoh komoditas yang diekspor antara lain:

  • Bibit dan bunga krisan
  • Saintpaulia
  • Lilium
  • Tanaman akuarium
  • Bibit tanaman hias lainnya termasuk anthurium

Anthurium disebut mendapat nilai ekspor tinggi dan menjadi salah satu tanaman yang sangat diminati di pasar luar negeri.

Produsen dan daerah sentra

Pergerakan tanaman hias didominasi komunitas muda yang tersebar di sejumlah provinsi. Provinsi dengan kontribusi besar meliputi Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra Utara, dan Lampung. Keaktifan komunitas ini membantu pemajuan pasar domestik dan suplai untuk ekspor.

Pembinaan dan fasilitas karantina

Untuk memastikan kelayakan ekspor, Badan Karantina melakukan pembinaan sejak fase pemeliharaan hingga pemenuhan persyaratan negara tujuan. Dukungan fasilitas screenhouse digunakan agar tanaman tumbuh sehat sebelum pengiriman internasional.

Kami melakukan pembinaan sejak pemeliharaan di screenhouse, kemudian memberikan bimbingan bagaimana supaya bisa diterima di negara tujuan

Persyaratan karantina dan sertifikasi

Barantin memastikan komoditas ekspor bebas dari penyakit dan hama agar memenuhi persyaratan negara tujuan. Pemeriksaan dilakukan di instalasi karantina, termasuk pemeriksaan laboratorium sebelum pengiriman, sehingga proses pemeriksaan di pelabuhan atau bandara lebih cepat.

Jepang tidak mau terima kalau ada nematoda, sedangkan Amerika Serikat tidak mau ada serangga satu ekor pun

Setiap negara memiliki ketentuan berbeda. Oleh karena itu, Barantin menerbitkan Sertifikat Kesehatan Tumbuhan setelah komoditas dinyatakan memenuhi standar kesehatan tumbuhan negara tujuan.

Proses komunikasi dan kepatuhan

Dalam proses ekspor, komunikasi intensif dengan otoritas karantina negara tujuan diperlukan untuk menghindari ketidaksesuaian dokumen atau jumlah kiriman. Ketidaksesuaian jumlah barang dengan sertifikat dapat memicu Notification Non Compliance (NNC), yang berisiko menyebabkan pengembalian atau pemusnahan komoditas di negara tujuan.

Jangan sampai di dalam sertifikat karantina berjumlah 10 batang, tetapi tiba-tiba ditambah jadi 11. Itu tidak boleh, jumlahnya harus tetap sama dengan sertifikat

Tantangan dan prospek

Jumlah NNC saat ini semakin berkurang, yang menunjukkan eksportir makin memahami persyaratan. Meski demikian, pengawasan dan edukasi berkelanjutan masih dibutuhkan. Pengembangan varietas baru melalui persilangan menjadi peluang penting untuk memperkuat daya saing tanaman hias Indonesia di pasar global.

Dengan kombinasi pembinaan, sertifikasi, dan inovasi varietas, sektor florikultura Indonesia berpeluang memperbesar nilai ekspor sekaligus menjaga kesehatan tanaman dan reputasi di pasar internasional.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait