Kolintang Bawakan La Vie en Rose dengan Sentuhan Keroncong
Kolintang Indonesia akan tampil di Paris, Prancis, pada 1 Oktober 2026 dengan repertoar lintas genre, termasuk La Vie en Rose yang diaransemen berpadu musik Prancis dan keroncong Indonesia. Persiapan ini dimotori oleh PINKAN Indonesia dan dikomandoi etnomusikolog Franki Raden untuk mengenalkan kolintang ke penonton internasional.
Repertoar dan tujuan penampilan
Untuk penampilan di Paris, grup menyiapkan lagu dari berbagai genre. Pilihan meliputi musik tradisional, jazz, karya klasik, serta lagu populer yang familiar bagi masyarakat Prancis. Tujuannya agar penonton asing cepat terhubung dengan suara kolintang.
- La Vie en Rose (aransemen keroncong + kolintang)
- Rondo Alla Turca (Mozart)
- Repertoar tradisional dan jazz
Kenapa La Vie en Rose?
Franki Raden menjelaskan pemilihan lagu mempertimbangkan tingkat familiaritas pendengar. Lagu yang sudah dikenal menjadi pintu masuk untuk menikmati warna baru kolintang. Selain itu, lagu Prancis memberi unsur kejutan saat dibalut aransemen nusantara.
“Sedangkan yang lagu popnya itu memang harus lagu Prancis untuk menciptakan surprise (kejutan),”
“Lagu itu digarap dengan aransemen yang sangat menarik sehingga nantinya akan mengejutkan para pendengar.”
Fleksibilitas kolintang menurut Franki Raden
Franki menekankan kolintang kini lebih fleksibel karena penggunaan tangga nada diatonis. Perubahan ini memungkinkan kolintang memainkan berbagai genre tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.
“Kolintang itu sebenarnya masih sebuah jenis musik folklor, tetapi kini sudah berkembang menjadi musik yang lebih umum,”
“Terutama tangga nadanya sudah menjadi tangga nada diatonis sehingga mereka menjadi sangat fleksibel,”
Ciri khas instrumen dan penerimaan audiens
Salah satu keunikan kolintang adalah material instrumennya yang seluruhnya dari kayu. Franki menyebut ini membedakan kolintang dari ansambel lain seperti orkestra atau band yang memadu berbagai bahan instrumen.
“Kalau kita tahu alat kolintang itu kan jenis bahannya sama semua dari kayu,”
“Ini sebuah ensemble musik kayu yang membedakan dengan, misalnya, orkestra yang alatnya macam-macam.”
Karena tangga nada diatonis, musik kolintang relatif mudah diterima pendengar yang terbiasa dengan musik Barat. Franki melihat itu sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan warna musik kolintang ke audiens baru.
“Karena mereka menggunakan tangga nada diatonik sehingga musik yang keluar orang Barat sangat familiar,”
Penutup: Pertemuan budaya di panggung internasional
Perpaduan La Vie en Rose dengan keroncong lewat kolintang adalah upaya mempertemukan dua budaya musik. Selain menampilkan kemampuan teknis, konser ini berpotensi membuka ruang apresiasi baru untuk musik tradisi Indonesia di kancah internasional.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
Doulos Hope Tiba di Jakarta: Pameran Buku Terapung Sebulan
Kapal pameran Doulos Hope singgah di Jakarta 16 Sept–11 Okt 2026 dengan lebih dari 2.000 judul; tiket Rp15.0...
Indonesia Dorong Penyebaran Investasi Pariwisata di Luar Jakarta–Bali
Pemerintah mendorong penyebaran investasi pariwisata dari Jakarta dan Bali ke 13 destinasi prioritas dan 10...
Kolintang Minahasa Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris
Kolintang Rhythm of Minahasa tampil di UNESCO Paris (27 Sept-3 Okt 2026) untuk misi diplomasi budaya dan mem...
Fadli Zon Umumkan Revitalisasi Galeri Nasional Jakarta
Menbud Fadli Zon mengumumkan Galeri Nasional Jakarta akan direvitalisasi setelah pameran Nasirun pada 12 Sep...
Hari Programmer Sedunia: Sejarah dan Makna 13 September
Hari Programmer diperingati tiap 13 September karena hari ke-256 merepresentasikan satu byte, simbol penting...
Honda DBL West Java 2026: 207 Tim Tampil di Bogor dan Bandung
Honda DBL West Java Series 2026 digelar di Bogor dan Bandung pada September, diikuti 207 tim basket dan danc...