Gaya Hidup

Kolintang Minahasa Bawa Diplomasi Budaya Indonesia ke UNESCO Paris

Bagikan:
Penampilan grup Kolintang Rhythm of Minahasa sebagai diplomasi budaya di Paris

Kolintang Rhythm of Minahasa akan tampil di Paris, Prancis, pada 27 September-3 Oktober 2026 guna menjalankan misi diplomasi budaya Indonesia dalam agenda UNESCO. Penampilan ini dirancang untuk memperkenalkan kekayaan seni Nusantara melalui konsep Jembatan Budaya, sekaligus menunjukkan fleksibilitas alat musik kolintang dalam berbagai genre.

Repertoar dan persiapan menuju Paris

RoM telah menyusun repertoar yang menonjolkan identitas kolintang sekaligus membangun kedekatan dengan penonton internasional. Pertunjukan memadukan lagu-lagu daerah Minahasa dan Sulawesi Utara untuk menampilkan karakter suara asli kolintang.

Selain lagu daerah, kelompok ini menyiapkan sebuah karya klasik dunia dengan aransemen orkestrasi kompleks. Materi itu dimaksudkan untuk memperlihatkan keterampilan individu pemain dan kapasitas kolintang memainkan komposisi tingkat tinggi.

"Ini suatu kebanggaan buat kami, dan tentunya kehadiran kami bukan hanya sekadar mempertunjukkan musik, tapi adalah bagian misi diplomasi budaya untuk kita memperkenalkan keindahan Nusantara, warisan budaya kita,"

— Ferdinand Soputan, perwakilan Rhythm of Minahasa dan Ketua Ikatan Pelatih Kolintang Indonesia (Ipkolindo), dalam konferensi pers "Kolintang Goes To Paris" di Jakarta, 17 September 2026.

Konsep Jembatan Budaya dan kolaborasi

Konsep Jembatan Budaya menjadi dasar penampilan RoM. Menurut para penyelenggara, kolintang tidak hanya alat tradisional yang statis, tetapi juga mampu berkolaborasi lintas genre dan tradisi.

Grup membuka peluang kolaborasi dengan musisi lokal Paris jika kondisi memungkinkan. Langkah ini bertujuan menunjukkan keterbukaan kolintang terhadap ragam tradisi musik dunia.

"Harapan kami mempertunjukkan wajah Indonesia yang progresif, namun tidak menghilangkan tradisi,"

— Prof. Frengky Raden, Guru Besar Etnomusikologi, yang akan mendampingi tim ke Prancis.

Kolintang: dari Minahasa untuk Indonesia

Pembangunan jaringan pelatih dan pemain di berbagai daerah menunjukkan perkembangan kolintang melampaui asalnya di Minahasa. Hal ini menjadi bukti bahwa kolintang kini menjadi bagian dari identitas budaya nasional.

Beberapa wilayah yang memiliki perwakilan pelatih kolintang antara lain:

  • Jawa Timur
  • Jawa Tengah
  • Aceh
  • Sumatra
  • Banten
  • Bali
  • Sulawesi Utara

"Artinya bahwa kolintang ini sudah bukan hanya milik orang Minahasa, tetapi sudah menjadi milik Indonesia,"

— Penny Iriana Marsetio, Ketua Umum Persatuan Insan Kolintang Nasional (PINKAN) Indonesia.

Personel yang berangkat ke Paris mayoritas generasi muda. Sebagian besar juga berperan sebagai pelatih dan anggota Ipkolindo. Keterlibatan mereka diharapkan menjaga keberlanjutan warisan budaya dan mendukung semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Makna dan prospek

Penampilan RoM pada ajang UNESCO di Paris diharapkan tidak hanya menampilkan kemampuan musikal kolintang. Lebih dari itu, misi ini diharapkan menyampaikan kehangatan budaya Indonesia kepada audiens internasional dan memperkuat posisi kolintang di panggung dunia.

Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, RoM berupaya menampilkan citra Indonesia yang progresif namun tetap berakar pada tradisi.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait