Astronom Temukan Elias 2-24 b, Planet 'Bayi' Usia < 1 Juta Tahun
Tim astronom internasional mengonfirmasi keberadaan Elias 2-24 b, planet termuda yang diketahui saat ini dengan perkiraan usia kurang dari 1 juta tahun. Penemuan diumumkan pada 17 September 2026 dan terungkap setelah analisis data arsip serta pengamatan langsung menggunakan coronagraph di W. M. Keck Observatory, Hawaii.
Penemuan dan metode pengamatan
Penemuan ini dipimpin oleh Andrea Bernardi dari Universidad Diego Portales, Chile. Penelusuran dimulai dari pengamatan terhadap tujuh bintang muda yang dikelilingi cakram debu dan gas—lingkungan yang biasa menjadi lokasi pembentukan planet.
Petunjuk awal muncul sekitar satu dekade lalu ketika pengamatan dengan ALMA menemukan celah pada cakram bintang Elias 2-24. Kemudian, Very Large Telescope (VLT) mendeteksi titik cahaya samar di lokasi yang sama.
Peneliti menelusuri arsip Keck Observatory dan menemukan titik cahaya serupa pada data tahun 2018 dan 2020. Dengan menggabungkan pengamatan tersebut mereka dapat melacak gerakan objek dan memastikan identitasnya sebagai planet.
Karakteristik Elias 2-24 b
Elias 2-24 b mengorbit bintang Elias 2-24 pada jarak sekitar 450 tahun cahaya dari Bumi. Planet ini diperkirakan memiliki massa mendekati massa Jupiter dan berada di dalam cakram protoplanet, menandakan masih berlangsungnya proses pembentukan.
Uniknya, usia yang dihitung untuk Elias 2-24 b kurang dari 1 juta tahun. Angka ini mengejutkan karena model umum pembentukan planet raksasa menyatakan diperlukan sekitar 5 juta tahun untuk membentuk planet seukuran Jupiter pada jarak seperti orbit Jupiter dari Matahari. Planet ini terletak sekitar 55 kali jarak Bumi–Matahari dari bintangnya, menunjukkan pembentukan cepat pada jarak yang relatif jauh.
Signifikansi untuk teori pembentukan planet
Penemuan objek muda ini menunjukkan masih ada proses penting dalam pembentukan planet yang belum sepenuhnya dipahami. Observasi langsung terhadap planet muda memberi jendela unik untuk memeriksa bagaimana materi dalam cakram terakumulasi menjadi inti dan atmosfer planet raksasa.
Pengamatan seperti ini membantu menguji model pembentukan planet yang ada dan mempersempit parameter waktu pembentukan pada berbagai jarak orbit.
Pandangan ke depan
Para peneliti berharap teleskop generasi berikutnya akan menyempurnakan pemahaman tentang Elias 2-24 b dan objek serupa. Teleskop dengan kemampuan coronagraph yang lebih maju berpotensi mendeteksi planet yang lebih sulit diamati, termasuk yang mengorbit lebih dekat ke bintang induknya.
"Planet-planet tersebut seharusnya ditemukan di dalam celah, karena planet-planet itu yang membentuk celah tersebut. Dan tepat di sanalah kami menemukan Elias 2-24 b,"
Observasi lanjutan dan data baru dari instrumen canggih akan menentukan apakah kasus Elias 2-24 b merepresentasikan proses pembentukan yang umum atau sebuah pengecualian yang langka.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
LRO Temukan Kawah Bulan 'Sekali Seabad' Berdiameter 222 m
LRO menemukan kawah baru bernama McGetchin berdiameter 222 m yang terbentuk antara April–Mei 2024; dampak tu...
Waspada: Telegram Jadi Ruang Penyebaran Pornografi Anak
Pemantauan menunjukkan grup Telegram berbayar menyebarkan pornografi anak; pelaku memulai grooming di media...
Lima Installer Indonesia Melaju ke Grand Final ASEAN MCFIT 2026
Lima installer Indonesia terpilih ke Grand Final ASEAN MCFIT Season 2 di Tiongkok setelah Final Nasional di...
WFI Teleskop Roman Diaktifkan, Uji Pencitraan Planet Dimulai
WFI Teleskop Nancy Grace Roman aktifkan kamera 300 MP; pengujian pendinginan dan coronagraph dimulai menuju...
MODENA Rilis Mesin Cuci Pintar Front Load dengan Aplikasi
MODENA meluncurkan dua mesin cuci front load pintar dengan aplikasi SeamlessAI+, EcoDrive Inverter, dan harg...
AI Dorong Efisiensi Layanan Kesehatan di Indonesia
Laporan Future Health Index 2026 mencatat AI meningkatkan efisiensi alur kerja, mempercepat diagnosis, dan m...