Waspada: Telegram Jadi Ruang Penyebaran Pornografi Anak
Telegram teridentifikasi sebagai salah satu ruang penyebaran konten pornografi anak yang masif melalui grup tertutup berbayar. Temuan itu disampaikan oleh Ismail Fahmi, pendiri Drone Emprit, dalam wawancara pada Kamis, 17 September 2026. Menurutnya, sejumlah grup mengenakan biaya antara Rp25 ribu sampai Rp100 ribu untuk akses materi ilegal, dan penemuan ini telah mengarah pada identifikasi pihak terkait oleh Bareskrim Polri.
Temuan dan modus penyebaran
Pemantauan menunjukkan ada pola berlapis dalam penyebaran. Pelaku memulai di media sosial terbuka untuk membangun kepercayaan, lalu mengarahkan korban ke kanal Telegram yang tertutup dan berbayar. Grup-grup tersebut bisa memiliki anggota puluhan ribu, serta mekanisme pembayaran tertentu untuk akses materi.
Telegram menjadi tempat yang cukup besar, karena grupnya tertutup dan berbayar untuk menyebarkan konten pornografi anak. Media sosial terbuka menjadi ruang awal grooming, sebelum korban diarahkan menuju kanal berbayar yang lebih gelap kemudian.
Cara pelaku melakukan grooming
Ismail menjelaskan pelaku memanfaatkan interaksi sehari-hari anak di dunia daring. Mereka memulai dengan aktivitas yang terlihat wajar, seperti permainan daring, lalu membangun kepercayaan secara bertahap. Setelah korban percaya, pelaku meminta foto atau video pribadi dan kemudian mengeksploitasi materi itu untuk dikomersialkan.
Anak-anak lebih terbiasa menggunakan teknologi, tetapi belum tentu mampu mengenali orang dewasa yang menyamar di internet. Kelemahan itu kemudian dimanfaatkan secara psikologis, terutama ketika pelaku mendekati anak melalui permainan daring yang mereka sukai sehari-hari.
Dampak dan penanganan
Penyebaran melalui kanal berbayar memperbesar skala dan mendatangkan keuntungan bagi pelaku. Penemuan ini sudah memicu tindak lanjut penegakan hukum, termasuk identifikasi oleh Bareskrim Polri. Namun upaya penindakan perlu diimbangi pencegahan guna melindungi anak dari eksploitasi selanjutnya.
Rekomendasi untuk orang tua dan lingkungan
Ismail menekankan pentingnya pengawasan yang seimbang dan edukasi digital. Orang tua dan pendidik perlu memahami pola grooming agar bisa mengenali tanda awal. Pembelajaran tentang batas berbagi foto, video, dan informasi pribadi juga harus diberikan sejak dini.
- Jaga komunikasi terbuka dengan anak tentang aktivitas daring mereka.
- Awasi kanal dan game yang digunakan anak tanpa menghilangkan ruang aman.
- Berikan edukasi tentang privasi, tanda grooming, dan cara melaporkan hal mencurigakan.
Pencegahan dan penegakan hukum perlu berjalan paralel agar anak terlindungi dari jaringan yang memanfaatkan platform seperti Telegram untuk menyebarkan materi ilegal.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
SWITCH 2026: Singapura Dorong Perusahaan Siapkan Pekerja Hadapi AI
SWITCH 2026 dibuka di Marina Bay Sands; pemerintah Singapura mengimbau perusahaan menyiapkan pekerja menghad...
ITSEC Asia Gandeng SGCI Bawa Keamanan Siber ke Pantai Gading
ITSEC Asia menggandeng SGCI menyediakan layanan keamanan siber berkelanjutan bagi institusi publik dan infra...
Bali Tech Week 2026 Targetkan 5.000 Peserta untuk Tarik Investasi Digital
Bali Tech Week 2026 digelar 19–23 Okt di Sanur, Bali, menargetkan 5.000 peserta dari 37 negara untuk menarik...
Perusahaan RI Risau Kehilangan Manfaat AI jika Hanya Jalankan Pilot
Perusahaan Indonesia berisiko kehilangan manfaat produktivitas AI jika hanya menjalankan pilot; butuh pelati...
Adopsi AI Melonjak, Ancaman Kebocoran dan Kedaulatan Data
Adopsi AI di Indonesia meningkat pesat, namun risiko kebocoran data dan kedaulatan informasi menguat akibat...
Gerhana Matahari Total 2027: Siang Terbenam 6 Menit di Luxor
Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027 akan menggelapkan siang hingga 6 menit di beberapa wilayah daratan, te...