The Fed Naikkan Suku Bunga, IHSG Berisiko Melemah
Bank Sentral AS, the Fed, menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin pada Rabu setelah rapat Federal Open Market Committee (FOMC). Keputusan itu membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia berisiko melemah pada perdagangan hari ini, Kamis, 17 September 2026.
Dampak langsung ke IHSG
Kemarin IHSG ditutup turun 0,38 persen dengan tekanan jual asing bersih sebesar Rp592 miliar. Saham-saham yang paling banyak dijual asing antara lain BMRI, BUMI, BBCA, ADRO, dan ITMG.
"Hari ini IHSG berpotensi 'sideways' cenderung melemah seiring dengan kenaikan suku bunga the Fed," kata Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, Kamis, 17 September 2026.
Fanny memperkirakan pergerakan indeks akan berada pada level support 6.350-6.400 dan resistansi 6.500-6.540. Proyeksi tersebut mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap arus modal asing setelah kebijakan moneter AS berubah.
Kenaikan suku bunga The Fed
The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, sehingga rentang suku bunga kini menjadi 3,75-4 persen. Keputusan itu diambil secara bulat oleh anggota FOMC.
"The Fed juga mengatakan, pengetatan lebih lanjut kemungkinan akan dilakukan dalam waktu dekat. Langkah itu untuk mendorong penurunan inflasi yang lebih cepat," ujar Fanny mengutip pernyataan Ketua the Fed, Kevin Warsh.
Menurut pernyataan tersebut, ekonomi AS menguat sejak pertemuan terakhir, namun tren inflasi hanya menunjukkan sedikit perbaikan. Oleh karena itu, komite kebijakan moneter membuka kemungkinan pengetatan tambahan.
Respon pasar global
Pasar saham AS merespons negatif terhadap pengumuman The Fed. Indeks Dow Jones turun 1,21 persen, S&P 500 turun 0,44 persen, dan Nasdaq Composite turun 0,01 persen pada hari pengumuman.
Sementara itu, bursa di kawasan Asia justru mencatat penguatan pada sesi Rabu. Indeks Nikkei 225 Jepang naik 0,7 persen, Hang Seng Hong Kong naik 0,2 persen, dan Kospi Korea Selatan melonjak 1,4 persen.
Penguatan Asia didorong oleh ekspektasi pasar yang semula menunggu keputusan The Fed menjelang penutupan perdagangan di wilayah tersebut.
Faktor lain dan prospek ke depan
Selain The Fed, investor kini menaruh perhatian pada keputusan Bank of Japan (BOJ) yang dijadwalkan pekan ini. BOJ diperkirakan dapat menaikkan suku bunga, sehingga tren suku bunga tinggi bisa berlangsung lebih lama.
Ke depan, IHSG diperkirakan tetap rentan terhadap sentimen kebijakan moneter global. Pergerakan arus modal asing dan keputusan bank sentral besar akan menentukan momentum jangka pendek pasar saham domestik.
Saham yang paling banyak dijual asing
- BMRI
- BUMI
- BBCA
- ADRO
- ITMG
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...