King Lear Jadi Momentum Diplomasi Budaya Indonesia–Jepang
Bambang Prihadi, Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), menggagas pementasan teater kolaborasi antara Indonesia dan Jepang lewat adaptasi King Lear. Inisiatif diumumkan saat konferensi pers di Gedung Kesenian Jakarta, Rabu, 16 September 2026. Tujuan utama adalah mempererat hubungan kebudayaan dan membuka peluang belajar bagi seniman muda Indonesia.
Inisiasi dan mitra kerja
Gagasan kolaborasi ini lahir dari pengalaman Bambang belajar di Suzuki Company Toga. Pertemuan itu kemudian dikembangkan bersama Yayasan Bumi Purnati. Kedua lembaga ini menjadi motor utama pembicaraan kerja sama seni lintas negara.
Saya belajar di Suzuki Company Toga sejak 2015, kemudian bertemu Restu untuk membicarakan peluang kerja sama seni bersama. Dari pertemuan itu, kami membahas bagaimana Indonesia dan Jepang membangun sinergi melalui Bumi Purnati serta Suzuki Company Toga
Peran Suzuki Company Toga
Bambang menjelaskan bahwa Suzuki Company Toga berkembang sejak 1976 dari sebuah rumah petani menjadi kawasan seni yang luas. Kawasan itu menyediakan fasilitas pertunjukan dan tempat tinggal bagi seniman internasional. Dengan demikian, ia menjadi pusat pembelajaran sekaligus laboratorium kreativitas bagi seniman dunia.
Di kawasan itu, banyak seniman dunia datang untuk belajar sistem pelatihan, sekaligus memahami kehidupan yang dibangun Tadashi Suzuki. Tempat itu menjadi ruang belajar berbagai seniman dunia, bukan hanya untuk tampil, tetapi juga memahami proses berkesenian bersama
Visi kolaborasi jangka panjang
Bambang menekankan bahwa kerja sama ini bukan proyek satu kali. Ia menyebut targetnya adalah membangun kerja seni berjangka panjang yang berkelanjutan. Persahabatan dengan tokoh seperti Scott dan Tadashi Suzuki dianggap membuka jalur kolaborasi yang lebih luas bagi seniman Indonesia.
Kami ingin membangun kolaborasi yang bukan sekadar berlangsung sebentar, tetapi menjadi kerja seni berjangka panjang bersama para seniman
Dampak untuk seniman muda dan komunitas
Pementasan King Lear diharapkan menjadi ruang pertukaran proses kreatif antara komunitas seni Indonesia dan Jepang. Selain memperkaya pengalaman panggung, proyek ini juga diproyeksikan memberi akses belajar bagi generasi muda untuk berkembang dalam ekosistem seni yang lebih luas.
Bambang menutup penjelasan dengan harapan bahwa proyek ini akan terus tumbuh dan membuka lebih banyak peluang kolaborasi. Ia melihat King Lear sebagai bagian awal dari perjalanan sinergi seni yang berkelanjutan antara kedua negara.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
Madani Film Festival 2026 Usung Tema Rimpang, Digelar 7-11 Oktober
Madani Internasional Film Festival 2026 bertema Rimpang digelar 7-11 Oktober di Jakarta, mendorong kolaboras...
Song Kang dan Kim Sohyun Reuni di Drakor 'White Scandal'
Song Kang dan Kim Sohyun dipastikan reuni sebagai pemeran utama drama MBC 'White Scandal', adaptasi webtoon...
DKJ Imbau Warga Waspada Pembelian Tiket 'Orchestra Experience'
DKJ mengimbau warga berhati-hati membeli tiket 'Orchestra Experience' setelah laporan dan pembatalan mendada...
Olivia Pilih Isyana untuk Lagu Pancasila Beraransemen Orkestra
Produser Olivia Zallianty memilih Isyana Sarasvati menyanyikan lagu Pancasila versi orkestra untuk menjangka...
Lee Jae Wook Bintangi Dead-End Job, Tayang 30 Oktober 2026
Lee Jae Wook membintangi serial Netflix Dead-End Job, tentang pekerja paruh waktu yang menerima tawaran berb...
Serial Fast & Furious Tayang 2028, Vin Diesel Jadi Produser
Peacock setujui serial Fast & Furious tayang 2028; Vin Diesel akan menjadi produser eksekutif dan proyek ber...