Pusat Massa Bumi Bergeser Musiman, Hanya Beberapa Milimeter
Pusat massa Bumi bergeser beberapa milimeter akibat perubahan musim yang memindahkan massa air, es, dan udara di permukaan planet. Penemuan ini diumumkan oleh tim ilmuwan NASA Jet Propulsion Laboratory pada 17 September 2026 dan menunjukkan pergeseran musiman yang lebih kecil dari perkiraan sebelumnya.
Pergeseran musiman dan dampaknya
Perubahan musim menyebabkan distribusi massa di Bumi berubah bolak-balik. Pergeseran hanya beberapa milimeter, namun penting karena pusat massa menjadi acuan bagi navigasi satelit dan pengukuran ketinggian.
Tim melaporkan pergeseran tersebut sekitar separuh dari estimasi yang dibuat ilmuwan delapan tahun lalu. Meskipun kecil, perubahan ini konsisten dan terukur setiap tahun.
Metode pengukuran baru dari JPL
Peneliti di NASA Jet Propulsion Laboratory mengembangkan metode baru untuk mengukur pergeseran itu dengan presisi tinggi. Donald Argus memimpin pengembangan metode yang menggabungkan beberapa sumber data.
Metode tersebut memanfaatkan pelacakan satelit berpresisi tinggi, data GPS, dan informasi orbit dari satelit-satelit di orbit rendah Bumi. Selain itu, perhitungan memasukkan perubahan massa air dan es di darat serta lautan.
Faktor penyebab pergeseran
Analisis menunjukkan tiga sumber utama yang memengaruhi perpindahan pusat massa Bumi:
- Osean (perubahan massa laut musiman).
- Atmosfer (pergeseran udara dingin atau hangat dan variasi tekanan).
- Air di daratan (es, salju, sungai, danau, kelembapan tanah, serta air tanah).
Contoh peristiwa yang terukur: pada Maret tahun lalu, akumulasi salju di Amerika Utara dan Eurasia mencapai puncak sehingga pusat massa bergeser sekitar 3 milimeter ke arah Kutub Utara.
Sebulan berikutnya, curah hujan besar di Amazon ditaksir sekitar 2.400 gigaton dan menggeser pusat massa sekitar 2,2 milimeter menuju Amerika Selatan. Di Asia Tenggara, puncak massa air musim hujan sekitar November mencapai 600 gigaton. Perubahan massa lautan antar Agustus hingga Oktober mengarahkan pusat massa ke Pasifik Selatan.
Perubahan atmosfer juga berperan. Udara musim dingin yang lebih padat menggeser distribusi massa di wilayah Arab, Asia, dan Afrika Utara sekitar 21 Desember setiap tahun.
Kaitan dengan pengamatan satelit
Hasil perhitungan tim JPL konsisten dengan pengamatan misi GRACE-FO. Satelit ini memetakan perubahan medan gravitasi akibat perpindahan massa air di permukaan dan bawah tanah.
Keselarasan antara metode baru dan data GRACE-FO menegaskan bahwa pergeseran musiman adalah fenomena terukur dan berulang. Temuan ini membantu meningkatkan ketepatan model geofisika dan sistem navigasi satelit.
Secara keseluruhan, meski pergeseran pusat massa Bumi berskala milimeter, pemahaman yang lebih baik tentang dinamika ini penting bagi ilmu penginderaan jauh, kelautan, dan operasi satelit ke depan.
Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.
Berita Terkait
Lima Installer Indonesia Melaju ke Grand Final ASEAN MCFIT 2026
Lima installer Indonesia terpilih ke Grand Final ASEAN MCFIT Season 2 di Tiongkok setelah Final Nasional di...
WFI Teleskop Roman Diaktifkan, Uji Pencitraan Planet Dimulai
WFI Teleskop Nancy Grace Roman aktifkan kamera 300 MP; pengujian pendinginan dan coronagraph dimulai menuju...
MODENA Rilis Mesin Cuci Pintar Front Load dengan Aplikasi
MODENA meluncurkan dua mesin cuci front load pintar dengan aplikasi SeamlessAI+, EcoDrive Inverter, dan harg...
AI Dorong Efisiensi Layanan Kesehatan di Indonesia
Laporan Future Health Index 2026 mencatat AI meningkatkan efisiensi alur kerja, mempercepat diagnosis, dan m...
BRIN Dorong Agribisnis di Lahan Bekas Tambang lewat Agro Techno Park
BRIN mendorong pemanfaatan lahan bekas tambang jadi kawasan agribisnis produktif lewat konsep Agro Techno Pa...
Telkom Solution Raih Penghargaan Business Impact & Industry Growth
Telkom Solution meraih penghargaan "Business Impact & Industry Growth" dari KGI atas kontribusi solusi digit...