Teknologi

BRIN Dorong Agribisnis di Lahan Bekas Tambang lewat Agro Techno Park

Bagikan:
Lahan bekas tambang dikembangkan menjadi kawasan agribisnis terpadu dan produktif

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menilai lahan bekas tambang punya potensi besar untuk dikembangkan menjadi kawasan agribisnis produktif dan berkelanjutan. Gagasan ini dipaparkan dalam Webinar Risnov Ternak Series #31 yang digelar Pusat Riset Peternakan BRIN secara daring pada Rabu, 9 September 2026.

Tujuan dan pendekatan pengembangan

Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menekankan bahwa pengembangan peternakan di lahan bekas tambang memerlukan kajian terpadu. Aspek tanah, lingkungan, produktivitas, kesehatan ternak, investasi, dan kelayakan usaha harus dinilai bersama-sama sebelum implementasi.

"Kita tidak ingin sekadar membuktikan bahwa ternak dapat dipelihara di lahan bekas tambang. Model usaha, teknologi, komponen operasional, dan kondisi pengembangan harus ditentukan melalui kajian,"

Konsep Agro Techno Park sebagai solusi

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Sindu Akhadiarto, memaparkan konsep Agro Techno Park untuk mengoptimalkan lahan. Konsep ini dirancang sebagai kawasan produktif berbasis teknologi dan inovasi, hasil kajian bersama pemerintah provinsi di wilayah terkait.

Salah satu lokasi yang disiapkan sebagai percontohan berada di Loa Kulu melalui kolaborasi BRIN dengan PT Bramasta Sakti. Kawasan ini akan menjadi model integrasi sektor agribisnis.

Integrasi sektor dan manfaat ekonomi

Agro Techno Park dirancang menggabungkan beberapa subsektor agribisnis untuk meningkatkan efisiensi dan nilai tambah. Integrasinya meliputi peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan, dan perkebunan dengan dukungan teknologi modern.

  • Penerapan smart farming untuk pengelolaan lahan dan pakan
  • Pengolahan limbah ternak menjadi pupuk organik
  • Penyediaan hijauan pakan terintegrasi untuk mendukung kesehatan ternak
  • Peluang agroeduwisata dan penelitian terapan

Sindu menekankan bahwa peternakan dapat menghasilkan pupuk organik, mengurangi limbah biomassa, dan membuka sumber pendapatan lokal melalui prinsip bioekonomi sirkular.

Kolaborasi akademik, pemerintah, dan pelaku usaha

Webinar menghadirkan perspektif akademisi dan pelaku usaha. Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman, Prof. Taufan Purwokusumaning Daru, menguraikan tantangan dan peluang di Kalimantan Timur. Sementara itu, Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto, membagikan pengalaman praktis pengembangan ternak di lahan bekas tambang.

BRIN menempatkan Agro Techno Park bukan sekadar sebagai kawasan produksi, tetapi juga sebagai ekosistem riset dan kolaborasi. Pemerintah daerah, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan lembaga riset diminta terlibat aktif agar model ini layak direplikasi di daerah lain.

Prospek dan implikasi

Model yang diusulkan diharapkan menciptakan kawasan yang produktif dan layak ekonomis. Selain memberi nilai tambah pada lahan yang sebelumnya terabaikan, pengembangan ini membuka peluang lapangan kerja, riset, dan diversifikasi ekonomi daerah.

Jika berhasil diuji coba dan disesuaikan dengan karakteristik lokal, konsep ini berpotensi direplikasi pada wilayah lain dengan lahan bekas tambang.

Naufal Hakim
Penulis
Naufal Hakim

Editor teknologi yang mengulas gadget, kecerdasan buatan, startup, dan inovasi digital.

Berita Terkait