Sambas Mangundikarta, Penyiar Olahraga Legendaris RRI
Sambas Mangundikarta adalah penyiar olahraga legendaris di Radio Republik Indonesia (RRI) yang dikenal sejak era 1950-an hingga 1990-an. Ia terkenal karena suara khas dan gaya peliputannya yang membuat pendengar terasa menyaksikan langsung pertandingan. Sambas aktif di RRI dan TVRI, meliput pertandingan penting termasuk Thomas Cup 1961, dan menerima penghargaan Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia pada 2022.
Awal karier dan masuk dunia radio
Sambas lahir di Bandung dan pertama kali terjun ke dunia siaran lewat Radio Perjuangan Jawa Barat. Pada 1946 ia mendirikan radio itu bersama Dr. Moestopo di Subang. Sebelum bergabung RRI, Sambas sempat bekerja sebagai staf di Bank Escompto.
Selanjutnya ia resmi bergabung dengan RRI Bandung pada Agustus 1952. Kariernya berkembang pesat setelah itu dengan penugasan di berbagai stasiun RRI.
Penugasan RRI: Samarinda, Cirebon, hingga Jakarta
Dalam catatan kariernya, Sambas ditugaskan ke RRI Samarinda pada 1954–1955 dan ke RRI Cirebon pada 1956–1958. Ia akhirnya berlabuh di RRI Jakarta, tempat suaranya makin dikenal luas oleh pendengar nasional.
Kemampuan melaporkan pertandingan sepak bola dan bulu tangkis menjadi andalannya. Pada 1961, ketika Indonesia menjadi tuan rumah Thomas Cup di Jakarta, Sambas termasuk satu dari tiga wartawan RRI yang meliput perjuangan tim Indonesia.
Gaya penyiaran dan ciri khas
Sambas disukai karena teknik narasi yang hidup dan intonasi khasnya. Pendengar sering merasa seolah berada di stadion saat ia mengudara. Ia juga dikenal kerap menyapa khalayak dengan sapaan populer:
"saudara-saudara di Tanah Air"
Sapaan itu melekat dan terus hadir terutama saat ia membawakan pertandingan sepak bola hingga era 1980–1990an.
Karier di TVRI dan bakat lain
Pada awal 1960-an Sambas melanjutkan kiprah ke televisi dengan bergabung di TVRI. Pengalaman siaranya membuat ia tetap aktif meliput kompetisi olahraga internasional di layar kaca.
Selain penyiaran, Sambas juga berkarya sebagai penyanyi dan pencipta lagu berbahasa Sunda. Karya terkenalnya antara lain Sapu Nyere Pegat Simpay, Manuk Dadali, dan Peuyeum Bandung. Ia juga sempat menjadi finalis Bintang Radio Indonesia pada 1951 dan beberapa kali mewakili daerah dalam kompetisi itu.
Penghargaan, akhir hidup, dan warisan
Dedikasi panjangnya dihargai dengan pemberian penghargaan Lifetime Achievement dari Komisi Penyiaran Indonesia pada Anugerah KPI 2022. Sambas meninggal di Jakarta pada 30 Maret 1999 akibat penyakit pernapasan. Siaran terakhir yang dicatat adalah peliputan Piala Eropa 1996.
Sampai hari ini, suara dan gaya penyiarannya tetap menjadi rujukan dalam dunia penyiaran olahraga Indonesia, meninggalkan warisan teknik narasi dan kehadiran yang hangat bagi generasi penyiar berikutnya.
Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.
Berita Terkait
3,3 Juta Lansia Terancam Abu Vulkanik Anak Krakatau
Sekitar 3,3 juta lansia di Indonesia berisiko terkena dampak kesehatan abu Anak Krakatau; Kemenkes imbau pri...
Ragam Alat Musik Tradisional Sulawesi Barat yang Jarang Dikenal
Sulawesi Barat punya beragam alat musik tradisional dari bambu, kelapa, dan daun yang dulu hibur petani, kin...
Yusuf Ronodipuro: Suara Proklamasi dan Pendiri RRI
Yusuf Ronodipuro menyiarkan Proklamasi 17 Agustus 1945 ke dunia dan menjadi salah satu pendiri Radio Republi...
4 Peringatan 9 September: Haornas, Kemerdekaan, Pendidikan, Sudoku
9 September diperingati untuk Haornas di Indonesia, kemerdekaan Tajikistan, perlindungan pendidikan, dan Har...
Toleat: Alat Musik Bambu Subang dengan Suara Unik
Toleat, alat musik tiup bambu dari Subang, punya suara khas mirip saksofon dan kini berstatus Warisan Budaya...
Waspadai 3 Gangguan yang Ganggu Konsentrasi Pengendara Motor
Pengendara motor sering terganggu oleh ponsel, makanan, atau pikiran, yang dapat menurunkan respons terhadap...