Ekonomi

Rupiah Melemah Hari Ini, Tertekan Kenaikan Harga Minyak

Bagikan:
Grafik penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akibat kenaikan harga minyak

Rupiah berbalik melemah pada perdagangan Kamis, 10 September 2026, ditutup di level Rp17.547 per dolar AS atau turun 0,21 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pelemahan berlangsung sepanjang hari dan dipicu oleh kenaikan harga minyak dunia serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pergerakan pasar hari ini

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah menurun sejak pembukaan hingga penutupan pasar sore. Pada penutupan sebelumnya, rupiah tercatat di posisi Rp17.511 per dolar AS.

Pergerakan nilai tukar dipantau investor yang juga menilai sentimen global dan indikator ekonomi AS sebagai faktor penentu sentimen pasar jangka pendek.

Faktor global yang menekan rupiah

Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menilai kenaikan harga minyak dan eskalasi konflik di Timur Tengah menjadi penyebab utama. Konflik memanas setelah serangan AS ke Iran dan meluas melibatkan Kelompok Houthi di Yaman dengan Arab Saudi.

'Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada para wartawan bahwa perang dengan Iran akan berakhir setelah pemilihan umum sela pada bulan November. Namun, sebuah laporan di Wall Street Journal mengungkapkan kemungkinan perang berlanjut hingga sisa masa jabatan Trump.'

Sentimen geopolitik ini mendorong permintaan aset lindung nilai dan meningkatkan ketidakpastian pasar mata uang, sehingga menekan mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah.

Prospek kebijakan The Fed dan rilis data AS

Pelaku pasar juga bersiap menyambut rilis Producer Price Index (PPI) AS hari ini, sementara data Consumer Price Index (CPI) dijadwalkan terbit Jumat waktu setempat. Data tersebut dinilai penting untuk mengukur momentum inflasi di AS.

'Data-data tersebut dapat memberikan petunjuk, apakah The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuannya minggu depan. Utamanya untuk meredam tekanan harga atau inflasi.'

Berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan peluang sekitar 60 persen untuk kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan mendatang.

Dampak terhadap fiskal dan inflasi domestik

Ibrahim juga mengingatkan risiko fiskal Indonesia akibat harga minyak tinggi. Kenaikan harga minyak otomatis meningkatkan alokasi anggaran untuk subsidi dan kompensasi energi, termasuk BBM dan LPG.

Jika penerimaan negara tidak mampu mengimbangi lonjakan belanja subsidi, risiko pelebaran defisit anggaran di atas target akan meningkat. Selain itu, impor minyak yang lebih mahal menambah kebutuhan dolar AS, yang berpotensi melemahkan rupiah lebih lanjut.

'Jika pemerintah terpaksa menyesuaikan harga BBM di dalam negeri untuk mengurangi beban APBN, akan memicu inflasi,' ujar Ibrahim.

Penutup: kewaspadaan kebijakan tetap diperlukan

Meskipun tekanan sedikit mereda pada Agustus karena sentimen konsumen yang lebih kuat, ketidakpastian pasar global menuntut kewaspadaan terhadap kesinambungan fiskal. Konsumsi rumah tangga meningkat karena kondisi keuangan yang lebih baik, namun belum sepenuhnya diikuti kenaikan pendapatan.

Rupiah kemungkinan masih rentan dalam jangka pendek sampai ketegangan geopolitik mereda dan sinyal kebijakan The Fed menjadi lebih jelas.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait