Budaya Bugar Jadi Kunci Prestasi Indonesia di Asian Games
Prof. Dr. Sapta Kunta Purnama menegaskan budaya hidup bugar sebagai fondasi utama bagi prestasi olahraga internasional. Dalam wawancara dengan Pro 3 RRI, Kamis, 10 September 2026, Guru Besar Ilmu Olahraga UNS itu mengatakan pencapaian tidak terjadi secara instan dan harus berakar dari kebiasaan sehat di masyarakat.
Kebugaran sebagai fondasi prestasi
Sapta menjelaskan bahwa prestasi olahraga berjangka panjang dilahirkan dari rutinitas hidup aktif. Menurutnya, atlet berprestasi muncul secara alami ketika kebugaran menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pada semua usia.
“Jadi pada prinsipnya bahwa sebuah prestasi olahraga di tingkat internasional itu sebetulnya dicapainya itu tidak secara instan. Melainkan harus berakar dari kebiasaan hidup sehat dan aktif.”
Tantangan kebugaran masyarakat
Meski penting, indeks kebugaran masyarakat Indonesia belum memuaskan. Sapta mengaitkan kondisi ini dengan perubahan gaya hidup, termasuk meningkatnya waktu yang dihabiskan remaja menggunakan gadget.
“Menurut laporan memang sekarang ini untuk indek kebugaran masyarakat Indonesia masih belum memuaskan. Jadi masih kurang.”
Kurangnya kebugaran menyulitkan proses pencarian bakat atlet muda. Jika tingkat kebugaran meningkat, penjaringan talenta akan lebih mudah dan berkelanjutan.
Peran sport science dan pembinaan atlet
Sapta menekankan pentingnya sport science dalam mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi besar seperti Asian Games Aichi–Nagoya. Ia memastikan kontingen yang berangkat telah dipersiapkan dari sisi fisik, psikis, dan teknik.
“Jika semuanya sudah bugar di segala usia itu akan memudahkan kepada pencarian dan penjaringan bakat untuk atlet muda berpotensi.”
Ia juga mengingatkan bahwa pembinaan harus berkelanjutan karena prestasi membutuhkan proses panjang. Sapta mengutip teori populer bahwa pencapaian tingkat tinggi membutuhkan sekitar 10.000 jam latihan terstruktur atau 10 tahun.
Haornas dan harapan untuk Asian Games
Memasuki momentum Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026, Sapta mendorong masyarakat membangun budaya hidup sehat dan aktif. Langkah ini dimaksudkan tidak hanya untuk kesehatan publik, tetapi juga sebagai sumber calon atlet berkualitas di masa depan.
“Yang penting itu sudah kita lakukan persiapan melalui latihan-latihan yang kemarin sudah dilalui. Sehingga di sana (di Asian Games) tinggal siap tempur, menampilkan yang terbaik.”
Dengan kebugaran yang merata dan pembinaan jangka panjang, harapannya atlet Indonesia siap bersaing melawan negara-negara maju. Pembangunan budaya bugar dianggap sebagai investasi kunci bagi prestasi nasional di ajang internasional.
Pecinta olahraga yang aktif melaporkan sepak bola, bulu tangkis, dan berbagai kompetisi internasional.
Berita Terkait
Honda DBL 2026 Seri Bandung Dimulai, Cahaya Bangsa Menang 36-14
Honda DBL 2026 seri Bandung berlangsung 10–26 Sept; SMA Cahaya Bangsa menang 36-14 atas Santo Aloysius di la...
Joaquin-Fadia Dipasangkan untuk Ganda Campuran Asian Games 2026
Nikolaus Joaquin dipasangkan dengan Siti Fadia untuk mengisi slot ganda campuran Asian Games 2026; prioritas...
Chelsea Bangkit dan Hajar Leeds 6-3 di Carabao Cup
Chelsea membalikkan keadaan dan menang 6-3 atas Leeds di Carabao Cup setelah tertinggal 0-2; Palmer, Welbeck...
Dewa United Bidik Kemenangan atas Bhayangkara di Serang
Dewa United menjamu Bhayangkara di Banten International Stadium, 11 Sept 2026, memburu poin penuh setelah ke...
Tim Bulu Tangkis Indonesia Gelar Pemusatan Latihan di Tokyo
Tim bulu tangkis Indonesia lakukan pemusatan latihan di Tokyo 13-17 Sept 2026, berangkat 12 Sept, fokus tekn...
Rybakina Kalahkan Gauff dan Tantang Sabalenka di Final US Open
Elena Rybakina bangkit kalahkan Coco Gauff 3-6, 6-4, 6-4 pada 11 Sept 2026 dan melaju ke final US Open melaw...