Rupiah Melemah 64 Poin, Ditutup Rp17.611 di Tengah Ketegangan
Akhir pekan, Jumat, 11 September, rupiah kembali melemah dan ditutup turun 0,36% atau 64 poin menjadi Rp17.611 per dolar AS. Pelemahan ini dipicu sentimen negatif dari ketegangan di Timur Tengah serta ekspektasi kenaikan suku bunga di AS.
Penutupan pasar dan angka penting
Berdasarkan data pasar, rupiah mengalami tekanan sepanjang hari dan menutup perdagangan lebih rendah dibandingkan sesi sebelumnya. Pelaku pasar mulai menilai risiko geopolitik dan data ekonomi AS saat menyesuaikan posisi mereka.
Ketegangan Timur Tengah menjadi pemicu utama
Konflik yang melibatkan AS dan Iran kembali memanas, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut adanya serangan dan aksi balasan yang memperburuk situasi.
"Iran menyatakan telah menyerang 10 kapal di dekat Selat Hormuz. Sedangkan AS mengklaim telah melakukan serangan balasan ke lima kapal tanker Iran," ujar Ibrahim.
Selain itu, kelompok Houthi di Yaman dikabarkan menguasai kota pelabuhan Mocha, yang memperkuat posisi mereka di Selat Bab el-Mandeb. Kondisi itu berpotensi mengganggu jalur utama pasokan minyak dari Timur Tengah.
"Kondisi itu membuat pelaku pasar mulai memperhitungkan premi risiko yang lebih tinggi dalam harga minyak mentah," kata Ibrahim.
Data inflasi AS dan implikasi terhadap kebijakan The Fed
Di sisi ekonomi, Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Agustus naik 0,4% secara bulanan, sesuai ekspektasi dan lebih tinggi dari kenaikan 0,1% pada Juli. Secara tahunan, PPI melonjak menjadi 5,4% dari 4,8% bulan sebelumnya, sementara PPI inti naik menjadi 4,6% dari 4,3%.
Kenaikan inflasi produsen ini memperkuat kemungkinan The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga lebih lanjut. Pasar kini menantikan rilis Indeks Harga Konsumen (IHK) malam nanti waktu AS sebagai indikator inflasi umum.
Proyeksi pasar menyebut IHK Agustus dapat naik menjadi 0,4% secara bulanan, dari 0,1% sebelumnya. Secara tahunan, IHK diperkirakan stabil di 3,4%, dengan IHK inti tahunan diperkirakan turun menjadi 2,4%.
Dampak bagi fiskal dan kebutuhan impor dolar
Di dalam negeri, pasar juga mencermati dampak kenaikan harga minyak terhadap keuangan negara. Sebagai negara importir netto minyak, Indonesia membutuhkan dolar AS untuk pembelian minyak dalam jumlah besar.
"Dampak fiskal yang muncul akibat situasi tersebut adalah pembengkakan subsidi dan kompensasi energi. Hal itu akan membuat beban APBN meningkat," ujar Ibrahim.
Kenaikan kebutuhan dolar untuk impor energi berpotensi memperlemah rupiah lebih lanjut jika harga minyak tetap tinggi, sehingga menambah tekanan pada defisit fiskal dan stabilitas ekonomi.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik di Timur Tengah, data inflasi AS, dan respons kebijakan moneter yang diambil bank sentral AS serta ketahanan fiskal dalam negeri.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...