IHSG Melemah ke 6.552, Pasar Cermati Lonjakan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, berada di level 6.552 atau turun 36,21 poin (0,55%) dari penutupan sebelumnya di 6.589. Pelemahan pasar didorong kekhawatiran atas kenaikan harga minyak dunia dan data ekonomi domestik yang beragam.
Pergerakan pasar dan aksi investor asing
Pada perdagangan Kamis sebelumnya, IHSG tercatat ditutup turun 1,33% ke 6.589 dengan aksi jual bersih investor asing sebesar Rp747,51 miliar. Tekanan jual ini memberi beban pada sentimen pembukaan hari ini.
- BBCA
- BBRI
- ISAT
- DSSA
- INDY
Nama-nama saham di atas menjadi yang paling banyak dilepas investor asing, sehingga menjadi perhatian pelaku pasar pada pembukaan sesi.
"IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460," ujar Tim Analis Phintraco Sekuritas.
Harga minyak dunia meningkat
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent menembus level 108 dolar AS per barel, sementara WTI berada di sekitar 102,48 dolar AS per barel. Kenaikan minyak memberi tekanan pada prospek inflasi global dan biaya impor bahan bakar.
Data ritel: tanda perbaikan dan risiko penurunan
Tim Phintraco mencatat penjualan ritel dalam negeri pada Juli 2026 tumbuh 1,1% secara tahunan, membalik tren penurunan tiga bulan sebelumnya. Bank Indonesia menyebut kenaikan itu terutama didorong oleh pembelian barang konsumsi pokok.
Penjualan eceran sektor makanan, minuman, dan tembakau naik menjadi 3,6% pada Juli dari 2,4% pada Juni. Namun, penjualan ritel Agustus 2026 tercatat turun 0,1% secara bulanan, sehingga konsumsi tetap menjadi indikator yang diawasi pasar.
Dampak pada fiskal dan kebijakan moneter global
Dari sisi fiskal, defisit APBN hingga Juli 2026 mencapai Rp235,6 triliun atau setara 0,91% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih lebih kecil dari target defisit 2026 sebesar Rp734,3 triliun (2,85% PDB), namun kenaikan harga minyak menjadi tantangan pengelolaan anggaran.
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN," tambah Tim Phintraco.
Secara eksternal, pasar juga memperhatikan keputusan European Central Bank (ECB) yang menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 2,65% pada Agustus 2026, dengan catatan konflik Timur Tengah memberi tekanan inflasi jangka menengah.
"ECB menyatakan konflik Timur Tengah terus memicu tekanan inflasi. Perkiraannya, inflasi masih akan di atas target 2 persen untuk jangka waktu cukup lama," kata Tim Phintraco.
Investor diperkirakan akan terus memantau level support IHSG, pergerakan harga minyak, data konsumsi domestik, serta dampak kebijakan moneter global untuk menentukan arah pasar selanjutnya.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...