IHSG Diprakirakan Melemah Hari Ini, Tertekan Minyak dan Suku Bunga
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan melemah pada perdagangan hari ini di Bursa Efek Indonesia. Tekanan datang dari kenaikan harga minyak dunia dan prospek kenaikan suku bunga global yang menimbulkan kekhawatiran investor.
Penutupan terakhir dan tekanan jual asing
Pada penutupan perdagangan Kamis, IHSG turun 1,33% ke level 6.589, disertai net sell asing sebesar Rp747,51 miliar. Saham-saham yang paling banyak dibeli asing tercatat mengalami aksi jual, antara lain:
- BBCA
- BBRI
- ISAT
- DSSA
- INDY
Tim analis Phintraco Sekuritas memperkirakan sentimen turun masih berlanjut hari ini.
"IHSG hari ini akan menguji level 6.525. Jika tembus level tersebut, IHSG berpeluang menguji level support selanjutnya di 6.400-6.460,"
Harga minyak dunia menguat
Sentimen eksternal utama adalah kenaikan harga minyak. Harga Brent telah menembus USD108 per barel, sementara WTI berada pada sekitar USD102,48 per barel. Kenaikan minyak ini meningkatkan tekanan pada neraca anggaran negara dan biaya industri, sehingga meredam selera risiko investor.
Faktor domestik: penjualan ritel dan fiskal
Di dalam negeri, tim Phintraco mencatat peningkatan penjualan ritel pada Juli 2026 sebesar 1,1% secara tahunan setelah tiga bulan kontraksi. Kenaikan terutama disokong oleh sektor makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh menjadi 3,6% pada Juli dari 2,4% pada Juni.
Sementara itu, data penjualan ritel untuk Agustus menunjukkan penurunan 0,1% secara bulanan.
Ruang fiskal dan risiko defisit
Phintraco juga mencatat defisit APBN pada Juli 2026 sebesar Rp235,6 triliun atau 0,91% dari PDB. Angka ini masih lebih kecil dibanding target defisit APBN 2026 sebesar Rp734,3 triliun atau 2,85% dari PDB.
"Berdasarkan defisit hingga Juli ini, pemerintah diperkirakan masih memiliki ruang fiskal yang cukup memadai,"
Namun tim analis mengingatkan potensi risiko jika harga minyak tinggi berkepanjangan.
"Jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam waktu lama dan Pemerintah tidak mengelola anggaran dengan efisien. Kondisi itu meningkatkan kekhawatiran potensi melebarnya defisit APBN,"
Pengaruh kebijakan moneter global
Dari sisi kebijakan global, European Central Bank (ECB) menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, sehingga menjadi 2,65% pada Agustus 2026. Phintraco menilai konflik di Timur Tengah memberi tekanan inflasi yang dapat menahan suku bunga di level tinggi.
"ECB menyatakan konflik Timur Tengah terus memicu tekanan inflasi. Perkiraannya, inflasi masih akan di atas target 2 persen untuk jangka waktu cukup lama,"
Dengan kombinasi faktor eksternal dan domestik tersebut, pasar diperkirakan akan bergerak hati-hati dalam beberapa hari ke depan, menimbang data ekonomi berikutnya dan perkembangan harga minyak.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...