Gaya Hidup

Yusuf Ronodipuro: Suara Proklamasi dan Pendiri RRI

Bagikan:
Potret Yusuf Ronodipuro, penyiar Proklamasi dan pendiri RRI

Yusuf Ronodipuro adalah penyiar yang pertama menyiarkan berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia ke dunia melalui radio pada 17 Agustus 1945. Lahir di Salatiga 30 September 1919, ia bertugas di Radio Hoso Kyoku dan mengambil risiko besar untuk menyebarluaskan naskah kemerdekaan, hingga kemudian menjadi salah satu pendiri Radio Republik Indonesia (RRI).

Awal karier dan siaran Proklamasi

Yusuf bergabung dengan Radio Hoso Kyoku pada 1943 saat pendudukan Jepang. Pada 17 Agustus 1945, ia masih bertugas sebagai penyiar ketika naskah Proklamasi tiba dari Adam Malik melalui Syahruddin, pegawai Kantor Berita Domei.

Bersama Bachtiar Loebis dan teknisi Joe Seragih, Yusuf memanfaatkan studio siaran luar negeri yang tidak aktif. Pada pukul 19.00 WIB, ia membacakan teks Proklamasi, lalu sekitar 20 menit kemudian mengulanginya dalam bahasa Inggris untuk menjangkau pendengar internasional.

  • BBC London
  • Radio Amerika
  • Radio di Singapura

Siaran tersebut berhasil tersebar ke sejumlah stasiun radio internasional, sehingga kabar kemerdekaan Indonesia cepat dikenal di luar negeri.

Penyiksaan dan dampak jangka panjang

Keberanian Yusuf memicu tindakan represif dari tentara Jepang. Ia ditangkap dan disiksa, bahkan nyaris dieksekusi menggunakan pedang oleh seorang perwira Jepang sebelum dihentikan. Penyiksaan meninggalkan cedera permanen pada kakinya, dan Yusuf berjalan pincang hingga akhir hayatnya.

Pendirian RRI dan semboyan

Pada 11 September 1945, tokoh radio dari berbagai daerah berkumpul dan sepakat mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai corong suara rakyat. Yusuf tercatat sebagai salah satu pendiri dan penggagas semboyan RRI.

"Sekali di Udara, Tetap di Udara."

Karier lanjutan: penyiar, kepala, diplomat

Setelah pendirian RRI, Yusuf mengembangkan karier di bidang penyiaran dan pemerintahan. Ia pernah menjabat Kepala RRI dan dipercaya menjalankan tugas negara, termasuk mendampingi delegasi Indonesia pada Konferensi Radio Asia serta bertugas di PBB sebelum diangkat sebagai duta besar.

Pada 1951, Yusuf mengusulkan perekaman ulang suara pembacaan Proklamasi di studio RRI. Rekaman itu kini menjadi arsip penting dan sering diperdengarkan saat peringatan kemerdekaan.

Warisan dan kematian

Yusuf Ronodipuro meninggal di Jakarta pada 27 Januari 2008 dalam usia 88 tahun. Namanya dikenang bukan hanya sebagai penyiar Proklamasi, tetapi juga sebagai pendiri RRI dan pelopor yang menempatkan lembaga penyiaran sebagai penjaga arsip sejarah bangsa.

Warisan Yusuf memperlihatkan peran media penyiaran dalam perjuangan kemerdekaan dan pembentukan identitas kebangsaan yang berlanjut hingga kini.

Putri Anindya
Penulis
Putri Anindya

Editor gaya hidup yang menulis tentang tren, kesehatan, perjalanan, dan inspirasi kehidupan modern.

Berita Terkait